suaramedia.id – Jakarta – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka terkait pernyataannya yang mengusulkan pemindahan gerbong khusus perempuan di KRL Commuter Line ke bagian tengah. Permintaan maaf ini disampaikan menyusul gelombang kritik dan respons negatif dari masyarakat, terutama setelah insiden kecelakaan kereta api yang baru-baru ini terjadi.

Related Post
Pernyataan kontroversial tersebut, yang diutarakan pascainsiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, dinilai banyak pihak kurang sensitif dan tidak tepat sasaran. Arifah Fauzi mengakui kesalahannya dan menyatakan penyesalan mendalam atas dampak yang ditimbulkan.

"Terkait pernyataan saya pascainsiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut," ujar Arifah Fauzi dalam sebuah unggahan video di akun Instagram resmi @kemenpppa baru-baru ini.
Ia menegaskan bahwa tidak ada niat sedikit pun untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya. "Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya," tambahnya, mencoba meluruskan persepsi yang berkembang di publik.
Menteri PPPA itu memahami betul bahwa dalam situasi duka seperti ini, fokus utama seharusnya tertuju pada aspek keselamatan, penanganan korban, serta menunjukkan empati mendalam kepada seluruh keluarga yang terdampak musibah. "Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu, baik perempuan maupun laki-laki," pungkasnya, menekankan pentingnya kesetaraan dalam perlindungan dan keamanan bagi setiap pengguna transportasi publik.
Pernyataan awal Menteri PPPA yang mengusulkan pemindahan gerbong khusus perempuan sempat menuai pro dan kontra, bahkan memicu tanggapan dari Direktur Utama KAI yang menegaskan bahwa keselamatan penumpang tidak membedakan gender. Dengan permohonan maaf ini, diharapkan polemik yang terjadi dapat mereda dan perhatian kembali terfokus pada upaya peningkatan keselamatan transportasi secara menyeluruh.









Tinggalkan komentar