suaramedia.id – Sebuah visi ambisius untuk masa depan pendidikan Indonesia mulai terkuak. Adidaya Foundation (Adyatama Indonesia Digdaya) secara resmi menggelar peluncuran gagasan buku strategis bertajuk "Lanskap Pendidikan Indonesia Digdaya: Menuju Visi Pendidikan Indonesia 2045" di Gedung BPMP DKI Jakarta. Kumpulan pemikiran ini diharapkan menjadi cetak biru transformasi pendidikan nasional dalam menghadapi kompleksitas tantangan global dan lokal hingga dua dekade mendatang.

Related Post
Acara peluncuran tersebut tidak hanya menjadi ajang perkenalan buku, melainkan juga dirangkai dengan diskusi panel interaktif yang menghadirkan sejumlah pakar dan pemangku kepentingan. Turut hadir dalam diskusi tersebut adalah Tantan Hermansyah, Penasihat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Beryana Evridawati, Penanggung Jawab Tata Kelola Direktorat SMA Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kedua penulis buku, Fahri Faturahman dan Aufar Abdul Aziz, juga turut memaparkan inti gagasan mereka. Kehadiran Pembina Adidaya Foundation Ilham Nurhidayatullah, Pengawas Sholahudin Hasan, dan Ketua Adidaya Foundation Budi Ramadhan Ritonga semakin menegaskan komitmen lembaga ini.

Dalam sambutannya, Ketua Adidaya Foundation, Budi Ramadhan Ritonga, menggarisbawahi dua misi fundamental lembaganya: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mendorong kesejahteraan masyarakat melalui penguatan sektor pendidikan dan ekonomi. "Kedua elemen ini terus kami perjuangkan agar gerakan Adidaya dapat terus berkembang dan memberikan dampak nyata," tegas Budi dalam acara yang berlangsung pada Minggu lalu.
Fahri Faturahman, salah satu inisiator dan penulis buku, menjelaskan bahwa "Lanskap Pendidikan Indonesia Digdaya" dirancang sebagai upaya konkret untuk merumuskan peta jalan transformasi pendidikan. Tujuannya adalah agar sistem pendidikan nasional tidak hanya responsif terhadap dinamika global, tetapi juga kokoh dalam memperkuat identitas kebangsaan. "Buku ini berupaya memotret realitas pendidikan nasional sekaligus menawarkan paradigma baru. Kami ingin pendidikan tidak sekadar mencetak tenaga kerja terampil, melainkan juga membangun manusia Indonesia yang utuh, berkarakter, dan berdaya saing," papar Fahri.
Senada dengan Fahri, Aufar Abdul Aziz, penulis lainnya, mengungkapkan bahwa gagasan dalam buku ini berakar dari kegelisahan mendalam terhadap berbagai persoalan krusial yang melanda pendidikan nasional. Mulai dari ketimpangan akses pendidikan yang masih menjadi pekerjaan rumah, hingga urgensi adaptasi terhadap tantangan transformasi digital di lingkungan sekolah yang kian mendesak. Peluncuran gagasan buku ini diharapkan dapat memicu diskusi konstruktif dan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing global pada tahun 2045.










Tinggalkan komentar