APBN Jadi Sorotan! Bisakah Visi Ekonomi Prabowo Terwujud?

suaramedia.id – Pidato Presiden Prabowo Subianto di rapat paripurna DPR pada Rabu, 20 Mei 2026, yang berapi-api dan penuh optimisme ekonomi, mendapat sorotan tajam dari Umar Jahidin, seorang analis ekonomi dan Mantan Wakil Ketua PP Jaringan Saudagar Muhammadiyah (PP-JSM). Menurut Jahidin, di balik semangat nasionalisme ekonomi yang digelorakan, kunci utama keberhasilan visi pembangunan terletak pada pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang efektif.

Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menggebrak, mengajak seluruh elemen bangsa untuk percaya pada kemampuan Indonesia melompat menjadi negara maju. Visi ini, yang sarat semangat nasionalisme ekonomi, memancarkan optimisme besar akan masa depan perekonomian Tanah Air. Namun, Umar Jahidin mengingatkan bahwa optimisme tersebut harus diimbangi dengan pemahaman mendalam mengenai politik anggaran negara, sebab seluruh visi pembangunan akan bertumpu pada bagaimana negara mengelola APBN.

Jahidin, yang juga CEO Alvin Group dan Mahasiswa Doktoral Ekonomi Manajemen UMJ Jakarta, menekankan bahwa APBN bukan sekadar dokumen angka-angka fiskal tahunan. Secara politis, APBN merupakan instrumen kebijakan krusial negara untuk mendistribusikan hasil pembangunan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, arah dan penggunaan APBN selalu mencerminkan pilihan politik pemerintah dalam menentukan prioritas pembangunan nasional.

Ia menjelaskan, sumber utama APBN berasal dari rakyat sendiri, meliputi pajak masyarakat, penerimaan sumber daya alam, bea cukai, dividen BUMN, serta berbagai penerimaan negara lainnya. Dengan demikian, anggaran negara pada hakikatnya adalah milik publik yang harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Pemerintah, lanjutnya, hanya menerima mandat untuk mengelola anggaran tersebut melalui pembangunan nasional, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, subsidi, ketahanan pangan, industrialisasi, dan berbagai program kesejahteraan lainnya. Maka dari itu, pengelolaan APBN harus dilakukan secara efektif, efisien, tepat sasaran, dan bebas dari kebocoran anggaran.

Di sinilah urgensi penghematan belanja negara, disiplin fiskal, dan keberanian memberantas korupsi menjadi sangat vital. Jahidin memperingatkan, sebesar apa pun anggaran negara, jika bocor akibat korupsi, mark-up proyek, atau birokrasi yang tidak efisien, manfaat pembangunan tidak akan sepenuhnya dirasakan masyarakat.

Selain itu, Jahidin juga menyoroti target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan mencapai sekitar 5,8–6,5 persen pada tahun 2027. Menurutnya, target tersebut sangat optimistis, mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir masih bergerak di kisaran 5 persen dan belum menunjukkan lompatan yang terlalu signifikan. Tantangan pengelolaan APBN yang transparan dan efektif akan menjadi penentu utama apakah optimisme Presiden dapat benar-benar terwujud menjadi realitas pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar