JAKARTA – suaramedia.id – Sebuah pandangan krusial mengenai produk tembakau alternatif atau Tobacco Harm Reduction (THR) baru-baru ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Amaliya. Ia secara tegas menyatakan bahwa pendekatan pengurangan risiko ini, yang lahir dari kemajuan sains dan inovasi, ditujukan khusus bagi perokok dewasa yang berjuang untuk berhenti total, bukan sebagai gerbang bagi non-perokok atau kaum muda untuk memulai konsumsi nikotin.

Related Post
Prof. Amaliya menjelaskan bahwa THR adalah strategi realistis untuk meminimalkan dampak buruk kesehatan akibat merokok, terutama ketika penghentian total belum dapat direalisasikan. Konsep ini melibatkan penggunaan berbagai produk seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantung nikotin, yang dirancang untuk menawarkan alternatif dengan profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Ia menganalogikan strategi THR ini seperti penggunaan helm atau sabuk pengaman saat berkendara. "Ini bukan tentang menghilangkan risiko sepenuhnya, tetapi secara nyata mengurangi potensi dampak fatal yang mungkin terjadi," ujar Prof. Amaliya, seperti dikutip dari suaramedia.id pada Senin (18/5/2026). Analogi ini menekankan bahwa tujuan utama THR adalah mitigasi risiko, bukan eliminasi total, bagi mereka yang sudah terlanjur merokok.
Penegasan ini menjadi sangat penting untuk meluruskan persepsi publik. Prof. Amaliya secara eksplisit menyatakan, "Konsep pengurangan bahaya ini secara tegas ditujukan bagi perokok aktif yang menghadapi kesulitan untuk berhenti, agar mereka dapat beralih ke produk dengan profil risiko yang lebih rendah. Ini sama sekali bukan undangan bagi individu yang tidak merokok, apalagi anak muda, untuk mulai mengonsumsi nikotin." Pesan ini menggarisbawahi pentingnya pemahaman yang benar agar tujuan mulia dari pendekatan THR tidak disalahartikan atau disalahgunakan oleh pihak yang tidak tepat.









Tinggalkan komentar