Ketum PGI Bersuara: Video JK Dipelintir, Jangan Tertipu!

Ketum PGI Bersuara: Video JK Dipelintir, Jangan Tertipu!

suaramedia.id – Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jacklevyn Manuputty, dengan tegas mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh beredarnya potongan video ceramah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Universitas Gadjah Mada (UGM). Manuputty menekankan bahwa video yang viral tersebut telah dipotong dan dipelintir dari konteks aslinya, berpotensi menyesatkan pemahaman publik dan memicu kegaduhan.

Menurut Jacklevyn, setelah mendengarkan rekaman ceramah JK secara utuh selama 43 menit, substansi pernyataan JK dapat dipahami dengan sangat jelas dan komprehensif. "Ketika mendengarkan rekaman utuh 43 menit dari Pak Jusuf Kalla, kita bisa memahami karena kita ada di situ dan kita aktor, kita pelaku," ujarnya usai pertemuan dengan JK di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis malam lalu. Ia mengakui adanya kemungkinan penggunaan istilah yang mungkin tidak terlalu pas dalam khazanah teologi, seperti penyebutan "syahid" dalam konteks Kristen, namun hal itu dinilainya tidak menggeser esensi atau substansi pesan utama yang ingin disampaikan JK.

Ketum PGI Bersuara: Video JK Dipelintir, Jangan Tertipu!
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Pertemuan antara Ketum PGI dan Jusuf Kalla ini, lanjut Jacklevyn, dilakukan untuk menyikapi situasi dan kekisruhan yang berkembang belakangan ini, khususnya terkait video ceramah JK yang menjadi perbincangan hangat. Jacklevyn menyoroti bahwa video yang tersebar luas di media sosial itu hanyalah berupa potongan-potongan yang sengaja dikemas untuk menciptakan kesan adu domba antarumat beragama dan memecah belah persatuan.

"Saya sendiri sebagai Ketua Umum PGI telah memberikan pandangan saya di minggu-minggu pertama sebelum ini berkembang dan meluas," tambah Jacklevyn. Ia juga menegaskan kredibilitasnya dalam isu-isu sensitif antaragama, mengingat perannya sebagai individu yang terlibat langsung dalam seluruh fase konflik Maluku, dari awal hingga akhir. Pengalaman ini memberinya perspektif mendalam tentang potensi bahaya dari narasi yang memecah belah dan pentingnya menjaga kerukunan.

Jacklevyn berharap, dengan adanya klarifikasi ini, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyaring informasi, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sensitif keagamaan. Ia mengingatkan pentingnya melihat suatu pernyataan secara utuh dan tidak mudah terpancing oleh provokasi yang memanfaatkan potongan informasi untuk tujuan tertentu.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar