suaramedia.id – JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kini berada di bawah tekanan serius. Forum Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) se-Indonesia secara tegas mendesak PBNU untuk segera menggelar Muktamar paling lambat awal Agustus 2026. Ancaman mosi tidak percaya bahkan dilayangkan jika batas waktu tersebut tidak dipenuhi. Desakan ini disampaikan langsung oleh para pimpinan wilayah di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Related Post
Ketua PWNU Jawa Tengah, Abdul Ghaffar Rozin, yang akrab disapa Gus Rozin, menjelaskan bahwa kunjungan para ketua PWNU ini merupakan bagian dari upaya konsolidasi pimpinan wilayah dalam menyikapi dinamika internal organisasi yang kian memanas. Gus Rozin mengungkapkan keprihatinan mendalam atas minimnya progres pasca-kesepakatan islah, yang belum mampu memecahkan kebuntuan komunikasi di kalangan elite PBNU.

"Kami sudah berdiskusi berkali-kali dan tidak menemukan solusi lain kecuali melalui pelaksanaan muktamar sesegera mungkin," tegas Gus Rozin.
Aspirasi penting ini telah diterima oleh Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, secara daring, dan juga disampaikan langsung kepada Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, di ruang kerjanya. Forum PWNU menilai, penundaan pelaksanaan Muktamar berpotensi besar mengganggu konsolidasi internal organisasi. Lebih jauh, hal ini dikhawatirkan akan menghambat fokus NU dalam menjalankan peran strategisnya di kancah kebangsaan dan keumatan.
Gus Rozin merinci tiga poin utama pernyataan sikap yang disampaikan Forum Ketua PWNU se-Indonesia. Pertama, PBNU diminta untuk melaksanakan Muktamar pada akhir Juli atau awal Agustus 2026, sesuai dengan keputusan Rapat Pleno PBNU pada 29 Januari 2026. Poin kedua dan ketiga adalah konsekuensi dari poin pertama. "Jika hingga Agustus 2026 Muktamar tidak terlaksana, PWNU bersama PCNU akan menyatakan mosi tidak percaya kepada PBNU," pungkas Gus Rozin, menegaskan keseriusan ancaman tersebut.









Tinggalkan komentar