Gejolak Iran Pasca Khamenei: Harga BBM RI Bisa Meroket?

Gejolak Iran Pasca Khamenei: Harga BBM RI Bisa Meroket?

suaramedia.id – Meninggalnya Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah memicu gelombang spekulasi global mengenai masa depan stabilitas Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasokan energi dunia, termasuk Indonesia. Sampe L. Purba, seorang Pemerhati Kebijakan Publik Strategis dan Advisor Geostrategi Energi, menyoroti empat skenario potensial yang bisa muncul dari kevakuman kekuasaan ini, yang semuanya berpotensi mengguncang Selat Hormuz, jalur vital migas global.

Related Post

Menurut Purba, skenario pertama adalah kelanjutan rezim Ayatollah yang terorganisir dengan baik, seperti yang telah berjalan selama ini. Kedua, militer Iran bisa mengambil alih kendali, membawa implikasi politik dan keamanan yang signifikan di kawasan. Skenario ketiga adalah kolapsnya rezim yang berujung pada kekacauan internal. Sementara itu, skenario keempat yang paling mengkhawatirkan bagi Iran, adalah munculnya pemerintahan baru yang lebih selaras dengan kepentingan strategis Amerika Serikat dan Israel, terutama jika kematian Khamenei terkait dengan serangan eksternal.

Gejolak Iran Pasca Khamenei: Harga BBM RI Bisa Meroket?
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Selat Hormuz: Jantung Energi Dunia dalam Tiga Dimensi

Selat Hormuz, yang membentang sepanjang 167 km dengan titik tersempit hanya 33 km, merupakan salah satu chokepoint maritim terpenting di dunia. Terletak strategis di antara Iran dan Oman, selat ini diakui sebagai jalur internasional bebas hambatan berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982. Pentingnya Selat Hormuz tidak dapat dipisahkan dari tiga dimensi krusial yang saling terkait: geopolitik, geostrategi, dan geoekonomi.

Secara geopolitik, Selat Hormuz adalah arena perebutan pengaruh yang melibatkan kekuatan global. Amerika Serikat telah membangun pangkalan militer di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab, serta mengintensifkan patroli NATO. Kehadiran ini tidak hanya bertujuan melindungi jalur perdagangan energi, tetapi juga menegaskan dominasi politik dan keamanan di kawasan. Di sisi lain, Iran memanfaatkan Yaman sebagai proxy strategis, menjadikannya pangkalan depan sekaligus penyeimbang terhadap kekuatan Barat, dengan konflik di Yaman dan peran kelompok Houthi menjadi cerminan pertarungan geopolitik yang lebih luas.

Rusia dan Tiongkok juga memiliki kepentingan besar di kawasan ini. Rusia melihatnya sebagai peluang untuk memperluas pengaruh militer dan diplomasi, sementara Tiongkok menganggap Selat Hormuz sebagai titik vital dalam rantai pasok energi global dan inisiatif Belt and Road. Kompleksitas semakin bertambah dengan rivalitas internal antara negara-negara Teluk seperti Arab Saudi yang berupaya menjaga stabilitas jalur, dan Oman yang sering berperan sebagai mediator diplomatik. Oleh karena itu, setiap ketegangan politik di Iran, terutama pasca-kematian Ali Khamenei, memiliki potensi besar untuk mengguncang keseimbangan geopolitik dan secara langsung mempengaruhi stabilitas energi dunia.

Dari perspektif geostrategi, Selat Hormuz adalah urat nadi energi global yang tak tergantikan. Sekitar 22% pasokan minyak dunia, setara dengan 21 juta barel per tahun, serta 20% perdagangan LNG internasional, melewati selat ini. Stabilitas jalur ini adalah penentu utama keberlangsungan rantai pasok energi dunia. Gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dan gas secara global, yang pada akhirnya akan berdampak signifikan pada perekonomian negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Implikasi bagi Indonesia

Sebagai negara pengimpor minyak dan gas, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak di Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak mentah global akibat gangguan pasokan akan langsung membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui subsidi energi dan berpotensi memicu inflasi. Kenaikan harga BBM dan energi lainnya di Indonesia menjadi ancaman nyata jika gejolak di Selat Hormuz tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, perkembangan situasi politik di Iran pasca-Khamenei dan dampaknya terhadap Selat Hormuz perlu dicermati dengan seksama oleh pemerintah Indonesia, demi menjaga stabilitas ekonomi dan energi nasional.

Bayu Nata
Author: Bayu Nata

jurnalis di Suara Media yang fokus pada isu-isu sosial-politik dan tata kelola pemerintahan daerah. Tulisannya sering menyoroti kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan perkembangan dinamika politik di tingkat regional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar