Perang AS-Iran Memanas: Indonesia Siaga, Indo-Pasifik Terancam!

suaramedia.id – JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dikhawatirkan meluas hingga ke kawasan Indo-Pasifik, terutama jika Tiongkok mengambil peran lebih aktif. Indo Pacific Strategic Intelligence (ISI) mendesak Indonesia untuk memperkuat kesiapsiagaan strategisnya guna menghadapi potensi dampak global yang tak terhindarkan. Peringatan ini muncul di tengah laporan asap membumbung di atas Teheran menyusul serangan AS-Israel pada Minggu (1/3/2026), mengindikasikan ketegangan yang kian memuncak.

Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Aisha R. Kusumasomantri, Co-Director Kerja sama dan Hubungan Eksternal ISI, menjelaskan bahwa keterlibatan Tiongkok, baik dalam bentuk dukungan ekonomi, militer, maupun kehadiran angkatan laut di Teluk Persia, dapat memicu efek domino yang secara langsung mengganggu stabilitas Asia. Skenario ini mencakup peningkatan ketegangan di Laut China Selatan dan Selat Taiwan, gangguan serius terhadap jalur pelayaran strategis, serta intensifikasi operasi siber dan intelijen yang menargetkan infrastruktur kritis negara-negara kawasan, termasuk ASEAN. Semua ini, menurut Aisha, adalah ancaman nyata yang perlu diwaspadai.

Lebih lanjut, Aisha menyoroti bahwa konflik AS-Iran merupakan cerminan nyata dari evolusi peperangan modern. Ini adalah karakteristik perang generasi kelima, di mana operasi informasi, perang kognitif, dan pemanfaatan teknologi disruptif seperti sistem nirawak (drone), kecerdasan buatan, dan senjata presisi tinggi menjadi inti dari strategi. "Dimensi non-kinetik semakin memainkan peran krusial dalam menentukan arah konflik, sekaligus membentuk preseden bagi arsitektur keamanan global di masa depan," tegas Aisha dalam pernyataan tertulisnya.

Menghadapi situasi geopolitik yang kian kompleks ini, ISI berpandangan bahwa Indonesia perlu meningkatkan kesiapsiagaan strategisnya sembari menghindari jebakan rivalitas kekuatan besar. Politik luar negeri bebas dan aktif harus tetap menjadi prinsip utama, dengan fokus keterlibatan Indonesia di Timur Tengah pada upaya perdamaian dan misi kemanusiaan.

Di sektor pertahanan, ISI merekomendasikan serangkaian langkah krusial untuk memperkokoh kesiapsiagaan nasional. Ini meliputi pengembangan strategi anti-decapitation, penerapan konsep perang berlarut mandiri berbasis unit kecil yang terfragmentasi, penguatan kapasitas anti-perang informasi, hingga penyempurnaan prosedur evakuasi massal. Langkah-langkah ini dianggap vital untuk mitigasi konsekuensi tidak langsung, mulai dari ancaman terhadap keamanan maritim, serangan siber, hingga tekanan serius terhadap stabilitas ekonomi nasional.


Bayu Nata
Author: Bayu Nata

jurnalis di Suara Media yang fokus pada isu-isu sosial-politik dan tata kelola pemerintahan daerah. Tulisannya sering menyoroti kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan perkembangan dinamika politik di tingkat regional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar