suaramedia.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, memberikan instruksi tegas terkait penanganan bencana di wilayah Sumatera. Ia menekankan bahwa normalisasi sungai yang terdampak sedimentasi harus segera dipercepat guna memitigasi risiko banjir susulan yang dapat mengancam warga.

Related Post
Pernyataan tersebut disampaikan Tito saat memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Sumatera, bertempat di Ruang Rapat Posko Nasional Satgas PRR, Kemendagri, Jakarta, pada Senin (26/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, dilaporkan bahwa upaya pemulihan infrastruktur serta layanan dasar di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus mengalami peningkatan signifikan.

Tito memaparkan bahwa bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang ketiga provinsi tersebut pada November 2025 telah memberikan dampak yang sangat luas bagi kehidupan sosial masyarakat. Merujuk pada data terbaru Satgas PRR per 26 Oktober 2026, skala dampak bencana mencakup 53 kabupaten/kota, 498 kecamatan, hingga menyentuh 4.533 desa/kelurahan.
Meski skala kerusakannya masif, terdapat kabar positif terkait kondisi pengungsi. Berdasarkan laporan suaramedia.id, jumlah pengungsi yang sebelumnya menembus angka lebih dari 2 juta jiwa kini telah berhasil dipulangkan. Saat ini, seluruh warga telah kembali ke rumah masing-masing, sehingga tidak ada lagi warga yang harus bertahan hidup di tenda pengungsian.
Sesuai dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto, pemerintah berkomitmen menjalankan program rehabilitasi dan rekonstruksi secara bertahap selama tiga tahun, terhitung sejak 2026 hingga 2028 mendatang. Proyek pemulihan skala besar ini melibatkan kolaborasi dari 33 kementerian/lembaga (K/L) dengan rencana induk yang mencakup total 11.520 kegiatan pembangunan dan perbaikan.










Tinggalkan komentar