Mengapa Kita Tak Lagi Melahirkan Al-Ghazali?

Mengapa Kita Tak Lagi Melahirkan Al-Ghazali?

suaramedia.id – Dunia pendidikan Islam saat ini tengah menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, institusi pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren tumbuh menjamur dengan jutaan santri yang bersemangat. Namun di sisi lain, muncul sebuah pertanyaan reflektif: mengapa dari rahim pendidikan Islam, kita seolah kehilangan sosok-sosok jenius seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, atau Al-Biruni?

Kegelisahan mendalam ini disampaikan oleh Prof. Dr. Kholid Al-Walid, M.Ag, Guru Besar Bidang Filsafat Islam dari Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurutnya, ada sesuatu yang fundamental yang telah hilang dari sistem pendidikan kita, yakni cara berpikir yang utuh.

Mengapa Kita Tak Lagi Melahirkan Al-Ghazali?
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Ironi Nama Besar Tanpa Penerus

Prof. Kholid menyoroti sebuah ironi sosial di mana masyarakat Muslim sangat bangga menyematkan nama-nama ilmuwan besar masa lalu pada nama universitas, jalan, hingga majelis taklim. Namun, kebanggaan ini tidak dibarengi dengan kemampuan melahirkan intelektual setara.

Ia mengingatkan bahwa tokoh seperti Ibn Sina bukan hanya seorang filsuf, melainkan juga rujukan kedokteran dunia melalui al-Qanun fi al-Tibb. Begitu pula Al-Khawarizmi yang meletakkan dasar aljabar, atau Al-Biruni yang menguasai astronomi dan mineralogi. Para tokoh ini tumbuh dalam peradaban yang memandang Al-Qur’an dan alam semesta sebagai satu kesatuan ilmu yang tidak terpisahkan.

"Mereka tidak memiliki dua kepala; satu untuk agama dan satu untuk sains. Mereka memiliki satu pandangan yang utuh tentang Tuhan, alam, dan manusia," tegas Prof. Kholid sebagaimana dikutip dari suaramedia.id.

Hilangnya Logika di Ruang Kelas

Lebih lanjut, ia membedah akar permasalahan yang terjadi pada kurikulum pendidikan Islam saat ini. Menurutnya, kesalahan fatal pertama adalah tercabutnya peran logika dan filsafat dari sistem pembelajaran di madrasah dan pesantren.

Meskipun ilmu mantiq (logika) mungkin masih ditemukan di beberapa pesantren, namun pengajarannya seringkali hanya sebatas hafalan bait-bait nazam tanpa melatih kemampuan analisis. Akibatnya, santri mungkin hafal definisi silogisme, namun gagap saat harus menguji sebuah argumen atau membedakan antara premis dan kesimpulan.

Prof. Kholid juga meluruskan miskonsepsi sejarah mengenai Al-Ghazali. Selama ini, ada anggapan keliru bahwa Al-Ghazali adalah sosok yang "membunuh" filsafat. Padahal, Al-Ghazali justru menggunakan perangkat filsafat untuk mengkritik tesis-tesis tertentu. Kritik yang lahir dari penguasaan ilmu, bukan dari ketidaktahuan.

Dampak Terhadap Kualitas Berpikir

Hilangnya pengajaran logika dan filsafat yang mendalam membawa dampak serius bagi generasi Muslim saat ini. Prof. Kholid memperingatkan dua risiko utama:

Pertama, masyarakat menjadi mudah terjebak dalam budaya taklid (mengikuti tanpa dasar) dalam berpikir, bukan hanya dalam masalah fikih. Kedua, lemahnya kemampuan nalar membuat umat menjadi sangat rentan terhadap paparan hoaks, slogan-slogan kosong, serta ideologi sederhana yang tidak teruji kebenarannya.

Melalui refleksi ini, Prof. Kholid mengajak para pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam untuk membangun kembali paradigma pendidikan yang integratif, di mana kecerdasan spiritual dan ketajaman intelektual berjalan beriringan, sebagaimana yang pernah dicapai oleh para pendahulu mereka.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar