suaramedia.id – Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, mengguncang paradigma kepemimpinan konvensional dengan menekankan esensi etika dalam pengabdian. Menurutnya, fondasi kepemimpinan sejati yang melahirkan loyalitas tanpa batas bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan dan mendahulukan kepentingan mereka yang dipimpin.

Related Post
Irfanudin membuka diskusinya dengan sebuah anekdot menarik dari barak militer Amerika Serikat. Di sana, para komandan secara konsisten berdiri di barisan paling belakang saat makan siang, baru menyantap hidangan setelah seluruh prajurit selesai. Tradisi yang dikenal sebagai "officers eat last" ini, menurut Simon Sinek, penulis buku fenomenal "Leaders Eat Last", adalah inti dari kepemimpinan sejati. "Pemimpin bukanlah mereka yang meminta dilayani, melainkan mereka yang mendahulukan orang-orang yang dipimpinnya," tegas Irfanudin, mengutip Sinek.

Filosofi serupa, yang tak kalah menginspirasi, juga ditemukan dalam tradisi pesantren di Indonesia. Irfanudin menyoroti bagaimana para kiai, alih-alih meminta santri melayani, justru kerap memasak dan melayani santri di masa-masa awal pendirian pesantren. Mereka tidak menyebut diri sebagai pemimpin, melainkan "khadim" atau pelayan umat. Model kepemimpinan yang berlandaskan pelayanan inilah, menurut Irfanudin, yang secara organik menumbuhkan kesetiaan yang tak tergoyahkan dari para pengikutnya.
Lebih lanjut, Irfanudin mengajak untuk menelusuri akar motivasi di balik setiap tindakan. Mengacu pada buku Simon Sinek, "Start With Why", ia menyoroti bahwa banyak organisasi dan pemimpin hanya memahami "apa" yang mereka kerjakan dan "bagaimana" cara mengerjakannya. Namun, sangat sedikit yang benar-benar memahami "mengapa" mereka melakukan hal tersebut. Pertanyaan "mengapa" ini, bagi Irfanudin, adalah kompas moral yang menentukan arah dan makna sebuah pengabdian.
Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, Irfanudin menegaskan bahwa jawaban atas pertanyaan "mengapa" sangatlah jelas dan mendalam. Al-Quran, dalam Surah Ali Imran ayat 110, secara gamblang menyatakan: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia." Kata kunci "untuk manusia" ini, menurut Irfanudin, menjadi landasan filosofis yang kuat. Ini berarti bahwa setiap upaya dan pengabdian tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi atau keuntungan institusi semata, melainkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan kolektif umat manusia.
Ketika esensi "mengapa" ini memudar, sebuah pesantren atau madrasah akan cenderung terjebak dalam pengejaran akreditasi, pembangunan fisik gedung, atau sekadar menghitung jumlah siswa sebagai indikator keberhasilan. Namun, saat "mengapa" itu hidup dan berdenyut dalam setiap denyut nadi organisasi, setiap aktivitas, sekecil apa pun, akan terasa bermakna dan memiliki dampak yang mendalam bagi masyarakat. Ini adalah panggilan untuk kembali pada etika pengabdian yang tulus, membangun kepercayaan, dan memperkuat kerja sama demi kemajuan bersama.










Tinggalkan komentar