suaramedia.id – Jakarta – Transformasi fundamental dalam karakter peperangan abad ke-21 menempatkan pertahanan negara pada tantangan yang sama sekali baru. Jika dulu kekuatan militer diukur dari kemampuan menghancurkan lawan, kini ketahanan suatu bangsa semakin ditentukan oleh kapasitas kolektifnya untuk melihat, memahami, menilai, memutuskan, dan bertindak secara tepat di tengah lautan ketidakpastian. Demikian penegasan Laksma TNI Salim, Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal, dalam analisis terbarunya.

Related Post
Menurut Laksma Salim, meskipun instrumen pertahanan konvensional seperti kapal perang, pesawat tempur, rudal, radar, satelit, jaringan siber, dan sistem persenjataan tetap menjadi fondasi, semua itu pada akhirnya berada di bawah kendali manusia. Manusia adalah aktor di balik setiap pengamatan, penafsiran, dan keputusan strategis. Oleh karena itu, ketika peperangan berevolusi dari Network-Centric Warfare menuju hybrid warfare, multi-domain operations, dan khususnya cognitive warfare, pusat gravitasi pertahanan bergeser ke elemen paling fundamental sekaligus paling rapuh: pikiran manusia.

Pergeseran Medan Tempur: Dari Platform ke Pikiran
Laksma Salim menjelaskan bahwa cognitive warfare harus dipahami lebih luas dari sekadar perang informasi. Ini adalah kompetisi intens untuk memengaruhi cara individu, kelompok, dan masyarakat mempersepsi realitas, membangun keyakinan, menentukan prioritas, memberikan makna terhadap suatu peristiwa, dan akhirnya mengambil keputusan. Sasaran strategisnya tidak selalu berupa pusat komando atau instalasi militer, melainkan dapat berupa kepercayaan publik, kohesi sosial, legitimasi institusi, moral masyarakat, persepsi terhadap ancaman, bahkan kemampuan suatu bangsa mencapai konsensus ketika menghadapi krisis.
Konsekuensinya sangat jelas: kemenangan strategis tidak selalu membutuhkan kekalahan militer. Sebuah negara bisa saja "kalah" jika masyarakatnya secara perlahan kehilangan kepercayaan kepada institusi negara, media, data publik, aparat, dan bahkan sesama warga negara.
Indonesia sebagai Sistem Kompleks: Ancaman Sistemik
Dalam konteks ini, teori sistem kompleks menjadi sangat relevan bagi Indonesia. Laksma Salim memandang Indonesia bukan sekadar kumpulan kementerian, lembaga, TNI, Polri, perusahaan, media, dan masyarakat yang bekerja secara terpisah, melainkan suatu sistem sosial-politik yang kompleks, adaptif, dan saling bergantung. Gangguan terhadap satu komponen dapat menghasilkan efek berantai yang merusak.
Sebagai contoh, informasi palsu dapat menciptakan kepanikan; kepanikan dapat mengurangi kepercayaan; hilangnya kepercayaan dapat memperlemah legitimasi; legitimasi yang melemah dapat memperbesar polarisasi; polarisasi dapat menghambat pengambilan keputusan; dan keterlambatan keputusan dapat memperbesar dampak krisis. Oleh karena itu, cognitive warfare harus dilihat sebagai ancaman sistemik, bukan hanya sebagai persoalan komunikasi publik semata.
OODA Loop dan Bahaya Bias Kognitif di Era Digital
Perspektif ini juga menjelaskan mengapa OODA Loop (Observe, Orient, Decide, Act) John Boyd menjadi semakin penting dalam lingkungan strategis modern. Dalam situasi krisis, keunggulan tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang memiliki informasi paling banyak, tetapi oleh siapa yang mampu mengubah informasi menjadi pemahaman dan keputusan secara lebih akurat dan adaptif. Distorsi pada tahap observasi dapat merusak orientasi, menghasilkan keputusan yang keliru, dan tindakan yang salah.
Lebih dalam, Laksma Salim mengingatkan bahwa informasi tidak pernah berdiri sendiri; ia harus ditafsirkan. Dua orang dapat menerima informasi yang sama tetapi menghasilkan keputusan berbeda karena pengalaman, nilai, identitas, emosi, dan kerangka berpikir mereka berbeda. Oleh karena itu, pertahanan kognitif harus memperhatikan cognitive bias seperti confirmation bias, availability bias, anchoring, dan groupthink, yang dapat menyebabkan manusia mengambil keputusan secara tidak proporsional. Lingkungan media sosial memperparah persoalan ini, di mana algoritma dapat memperkuat konten yang menarik perhatian dan emosi, menjebak masyarakat dalam echo chamber dan filter bubble.
Epistemic Security: Melindungi Integritas Pengetahuan Publik
Meskipun manusia dapat memanipulasi informasi, narasi, dan persepsi di ranah digital, ada satu ruang yang tidak pernah benar-benar dapat dimanipulasi: hati nurani dan pertanggungjawaban manusia di hadapan Sang Pencipta. Setiap niat, kebohongan, dan manipulasi pada akhirnya memiliki pertanggungjawaban moral.
Di sinilah epistemic security memperoleh arti strategis. Keamanan nasional tidak cukup hanya melindungi wilayah, jaringan, dan infrastruktur; negara juga perlu melindungi integritas proses pembentukan pengetahuan publik. Ancaman epistemik terjadi ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan fakta, opini, propaganda, misinformasi, disinformasi, malinformasi, dan ketidakpastian. Masalah terbesar bahkan bukan ketika satu informasi palsu dipercaya, melainkan ketika masyarakat sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada lagi fakta yang dapat dipercaya. Ketika semua bukti dianggap palsu dan semua institusi dianggap berbohong, masyarakat dapat memasuki kondisi epistemic nihilism: bukan lagi memperdebatkan fakta, tetapi menyerah terhadap kemungkinan menemukan kebenaran.
Fenomena ini sangat berbahaya bagi pertahanan negara karena setiap negara membutuhkan common factual ground atau landasan fakta bersama. Masyarakat boleh berbeda dalam menafsirkan suatu fakta, tetapi mereka tetap membutuhkan sejumlah fakta bersama agar dapat melakukan deliberasi. Tanpa realitas bersama, pemahaman bersama semakin sulit dibangun; tanpa pemahaman bersama, kepentingan nasional dapat terfragmentasi; dan tanpa kemampuan menemukan kepentingan bersama, konsensus nasional menjadi semakin rapuh. Dalam konteks Indonesia, persoalan tersebut memiliki dimensi strategis yang sangat khas, mengingat bangsa ini dibangun berdasarkan persatuan dalam keberagaman. Menjaga integritas kognitif masyarakat dan membangun ketahanan terhadap perang pikiran adalah imperatif strategis bagi masa depan Indonesia.










Tinggalkan komentar