suaramedia.id – Kebijakan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang menerbitkan telegram Siaga 1 menyikapi eskalasi konflik di Timur Tengah menuai sorotan tajam. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mempertanyakan langkah pengungkapan telegram tersebut ke publik, yang menurutnya berpotensi menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat.

Related Post
Hasanuddin menegaskan bahwa secara substansi, penerbitan telegram Siaga 1 oleh TNI tidak menjadi masalah. Ia memahami bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kesiapsiagaan prajurit, baik dari segi personel maupun materiil, dalam menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk untuk latihan maupun operasi militer.

"Telegram itu, ya, baik-baik saja, nggak ada masalah," ujar Hasanuddin kepada wartawan pada Senin lalu, menjelaskan bahwa siaga adalah sarana untuk meningkatkan kesiapan prajurit, baik personel maupun materiil, untuk latihan maupun operasi.
Namun, politikus senior dari Fraksi PDI Perjuangan ini menyoroti aspek pengungkapan telegram tersebut kepada khalayak umum. Menurutnya, dokumen dengan tingkat urgensi dan sensitivitas seperti telegram Siaga 1 seharusnya bersifat rahasia dan tidak untuk konsumsi publik.
"Kalau ini diungkap ke publik, rakyat menjadi gelisah. Ini kan telegram rahasia, bukan untuk diumumkan," tegas Hasanuddin. Ia menekankan bahwa ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi sebelum sebuah telegram diterbitkan, apalagi jika menyangkut informasi strategis yang bisa memicu reaksi publik.
Kritik ini mencerminkan kekhawatiran akan dampak psikologis terhadap masyarakat jika informasi militer yang seharusnya bersifat internal justru bocor atau sengaja diumumkan. Sementara kesiapsiagaan TNI adalah hal mutlak dalam menjaga kedaulatan negara dari ancaman, transparansi yang tidak tepat justru dapat memicu kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat.








Tinggalkan komentar