suaramedia.id – Analis kebijakan publik terkemuka, Said Didu, melayangkan peringatan serius kepada Presiden Prabowo Subianto ihwal adanya enam titik kemarahan di tengah masyarakat yang sangat rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berambisi merebut kekuasaan. Untuk mengantisipasi skenario tersebut, Said Didu secara eksplisit menyarankan Prabowo agar mencontoh gaya kepemimpinan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Peringatan ini disampaikan Said dalam forum diskusi "Rakyat Bersuara" bertajuk "Bisik-Bisik Percepatan Pemilu, Siapa Mengusik?" yang disiarkan iNews pada Selasa, 15 September 2026 malam.

Related Post
Dalam kesempatan tersebut, Said Didu menegaskan urgensi kewaspadaan yang harus dimiliki oleh pemerintahan baru. "Saya tetap terus waspada. Karena ada enam kemarahan di rakyat yang terjadi yang sangat mungkin dikapitalisasi oleh orang atau pihak yang ingin merebut kekuasaan," ujarnya, mengutip pernyataannya yang disiarkan. Ia menekankan bahwa dinamika sosial ini bukan sekadar riak kecil, melainkan potensi gelombang besar yang bisa mengancam stabilitas pemerintahan baru jika tidak ditangani dengan serius.

Said Didu kemudian merinci dua dari enam kemarahan yang ia maksud. Poin pertama adalah kemarahan yang dirasakan oleh kelompok masyarakat miskin yang hingga kini belum melihat adanya harapan konkret dari kebijakan pemerintahan Prabowo. Mereka merasa terpinggirkan dan tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Kedua, adalah kemarahan publik yang dipicu oleh kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), sebuah isu sensitif yang kerap memicu gejolak dan ketidakpuasan di berbagai daerah. Said Didu tidak merinci empat poin kemarahan lainnya, namun mengindikasikan bahwa semua memiliki potensi destabilisasi yang signifikan.
Mengenai saran untuk meniru Vladimir Putin, Said Didu tidak menjelaskan secara detail aspek mana dari kepemimpinan Putin yang harus dicontoh. Namun, dalam konteks pencegahan perebutan kekuasaan dan penanganan kemarahan rakyat, dapat diinterpretasikan bahwa Said Didu mengacu pada kemampuan Putin dalam menjaga stabilitas politik yang kuat, mengambil keputusan tegas dan cepat, serta responsif terhadap dinamika internal demi mempertahankan integritas kekuasaan. Ini mengisyaratkan perlunya kepemimpinan yang berani, antisipatif, dan mampu mengendalikan potensi gejolak sosial dari Presiden Prabowo.
Peringatan dari Said Didu ini menjadi sorotan penting bagi pemerintahan Prabowo Subianto untuk segera merumuskan strategi komprehensif dalam menanggulangi akar masalah kemarahan rakyat. Tanpa penanganan yang cepat, tepat, dan strategis, potensi destabilisasi yang disebutkan Said Didu bisa menjadi ancaman nyata bagi jalannya roda pemerintahan serta stabilitas nasional di masa mendatang.










Tinggalkan komentar