suaramedia.id – Semangat nasionalisme di kalangan generasi muda Indonesia ternyata masih tergolong tinggi. Berdasarkan temuan terbaru dari Lembaga Survei KedaiKOPI yang dirilis bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda, sebanyak 81,5 persen pemuda mengaku bangga menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Related Post
Kepala Riset Lembaga Survei KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, mengungkapkan bahwa dalam survei tersebut, responden diminta memberikan penilaian rasa bangga mereka pada skala 1 hingga 10. Hasilnya, rata-rata skor berada di angka 7,51. Bahkan, hampir 28,7 persen responden memberikan nilai sempurna sebagai bentuk kecintaan mereka pada tanah air.

"Secara nasionalisme dan identitas sebagai bangsa Indonesia, pemuda kita masih dalam kondisi baik. Mereka tidak merasa malu dan cukup bangga memiliki identitas Indonesia," ujar Ashma dalam diskusi bertajuk "Menakar Arah Pemuda" di Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).
Sorotan Terhadap 18,5 Persen yang Tak Bangga
Meski mayoritas merasa bangga, angka tersebut tidak lepas dari kritik. Founder KedaiKOPI, Hendri Satrio, menyoroti adanya 18,5 persen pemuda yang mengaku tidak bangga menjadi bagian dari Indonesia. Menurutnya, angka tersebut merupakan sebuah kegagalan dalam membangun rasa cinta tanah air.
"Bagi saya, hasil ini masih buruk. Harusnya angka kebanggaan itu bisa mencapai 100 persen," tegas Hensa.
Senada dengan Hensa, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menyebut angka 18,5 persen tersebut cukup signifikan. Ia menekankan bahwa rasa bangga terhadap negara seharusnya menjadi sesuatu yang mutlak bagi mereka yang tumbuh besar di Indonesia. Lili pun mengingatkan pemerintah dan partai politik untuk terus menggaungkan proyek nasionalisme secara berkelanjutan.
Ingin Kerja di Luar Negeri, Bukan Pindah Kewarganegaraan
Ada temuan menarik lainnya: rasa bangga yang tinggi ternyata beriringan dengan ambisi untuk merantau. Sebanyak 75,2 persen responden menyatakan keinginan untuk bekerja di luar negeri jika ada kesempatan, dengan alasan utama mengejar penghasilan yang lebih tinggi (78,2 persen).
Menariknya, keinginan ini tidak lantas dianggap sebagai lunturnya rasa nasionalisme. Sebanyak 61,6 persen responden berada di posisi "bangga jadi WNI namun ingin bekerja di luar negeri". Ashma menjelaskan bahwa fenomena ini membantah narasi negatif di media sosial seperti tagar #KaburAjaDulu.
"Bekerja di luar negeri bukan berarti ingin pindah menetap secara permanen. Mayoritas (77,8 persen) berencana kembali ke Indonesia. Mereka kemungkinan ingin mencari modal, ilmu, dan kekayaan terlebih dahulu untuk kemudian dibawa pulang ke tanah air," jelas Ashma.
Sulitnya Akses Lapangan Kerja
Di balik ambisi global tersebut, pemuda Indonesia sebenarnya sedang bergelut dengan realitas ekonomi yang pahit. Sebanyak 74,7 persen responden merasa mencari pekerjaan di dalam negeri saat ini sangat sulit, dengan skor kemudahan hanya 4,29 dari 10.
Hambatan utama yang dirasakan pemuda bukan karena kurangnya kemauan bekerja, melainkan sulitnya akses. Praktik "orang dalam" atau koneksi menjadi kendala terbesar yang dikeluhkan oleh 56 persen responden. Selain itu, keterbatasan lapangan kerja (48 persen), persaingan yang sangat ketat (41,3 persen), serta batasan usia dalam rekrutmen (39,2 persen) turut memperkeruh situasi.
Menanggapi hal ini, KedaiKOPI merekomendasikan agar pemerintah tidak hanya fokus pada kampanye nasionalisme secara verbal, tetapi juga harus memberikan alasan konkret bagi pemuda untuk tetap tinggal, yakni dengan menyediakan lapangan kerja yang layak dan akses modal usaha bagi mereka yang ingin berkontribusi di dalam negeri.










Tinggalkan komentar