SBN Melambung, APBN Terancam? Ini Faktanya!

suaramedia.id – Gejolak di pasar keuangan global kini tengah menyoroti ketahanan instrumen pembiayaan negara Indonesia. Tekanan ganda yang berasal dari pelemahan nilai tukar Rupiah serta lonjakan harga minyak mentah dunia mulai memberikan dampak nyata terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait potensi membengkaknya beban subsidi energi di tengah ketidakpastian global. Selain itu, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di pasar sekunder tercatat merangkak naik ke level 7,38% hingga 7,45%. Angka ini melampaui asumsi makro APBN yang sebelumnya dipatok pada kisaran 6,9%.

Fenomena kenaikan yield ini sempat menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pengamat: apakah lonjakan biaya utang tersebut akan mengganggu kredibilitas pembayaran pemerintah serta mempersempit ruang gerak fiskal nasional?

Menanggapi dinamika tersebut, Perdana Wahyu Santosa, Guru Besar FEB YARSI University sekaligus Direktur Riset GREAT Institute, memberikan perspektif yang lebih jernah. Menurutnya, kenaikan yield obligasi pemerintah saat ini bukanlah refleksi dari melemahnya fundamental ekonomi domestik, maupun adanya risiko gagal bayar (default risk).

Ia menjelaskan bahwa lonjakan ini merupakan konsekuensi logis dari fenomena higher for longer pada harga komoditas global. Selain itu, terjadi penyesuaian arus modal global yang menuntut premi risiko lebih tinggi dari negara-negara berkembang (emerging markets).

Dalam analisis sensitivitas fiskal, kenaikan harga minyak mentah memang berpotensi menambah beban belanja negara dan memperlebar estimasi defisit anggaran. Namun, Perdana menegaskan bahwa menganggap lonjakan yield SBN sebagai sinyal bahaya dalam pengelolaan utang adalah sebuah kekeliruan. Situasi ini lebih merupakan penyesuaikan pasar terhadap dinamika ekonomi global yang sedang berlangsung.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar