Terungkap! Bukan Jumlah Rakaat, Ini Inti Tarawih Pesantren

Terungkap! Bukan Jumlah Rakaat, Ini Inti Tarawih Pesantren

suaramedia.id – Malam pertama Ramadan di serambi Masjid Darunnajah, Jakarta, menjadi saksi sebuah percakapan mendalam antara Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Muhammad Irfanudin Kurniawan dan seorang santri. Pertanyaan polos tentang jumlah rakaat salat tarawih yang berbeda di pesantren, membuka tabir makna sejati di balik ibadah Qiyam Ramadan yang jauh melampaui sekadar hitungan angka.

Angin malam Jakarta yang adem selepas Isya tak mampu mendinginkan rasa penasaran sang santri. Ia menghampiri Irfanudin, yang masih duduk merenung usai memimpin tarawih. "Ust, kata orang, shalat tarawih itu cuma 11 rakaat. Tapi kenapa kita di sini 23 rakaat, ya? Yang bener yang mana, Ust?" tanyanya lugu.

Terungkap! Bukan Jumlah Rakaat, Ini Inti Tarawih Pesantren
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Menanggapi kebingungan yang kerap muncul setiap Ramadan itu, Irfanudin dengan sabar menjelaskan bahwa inti dari shalat malam, termasuk tarawih, sebenarnya terletak pada dua kata kunci yang sering terlupakan: iman dan ihtisab. Ia merujuk pada hadis shahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

"Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

Iman dan Ihtisab: DNA Ibadah yang Menggerakkan Pesantren

Irfanudin memerinci makna kedua syarat tersebut. "Iman, yang berarti keyakinan teguh bahwa ibadah ini adalah perintah Allah SWT dan janji pahala-Nya adalah benar, bukan sekadar ikut-ikutan atau paksaan. Sementara ihtisab, merujuk pada keikhlasan semata-mata mengharap balasan dari Allah, tanpa mencari pujian atau pengakuan manusia," jelasnya kepada santri.

Dua elemen ini, menurut Irfanudin, adalah "DNA" setiap ibadah. Tanpa iman dan ihtisab, shalat tarawih hanya akan menjadi serangkaian gerakan fisik tanpa makna spiritual yang mendalam.

Ia kemudian mengaitkan konsep ini dengan filosofi pohon pisang yang pernah disampaikan oleh KH. Mahrus Amin, salah satu pendiri Pesantren Darunnajah. Pohon pisang, kata beliau, tidak pernah risau memikirkan untuk siapa buahnya. Ia tumbuh, berbuah, lalu mati, namun meninggalkan tunas baru. Sebuah gambaran kesederhanaan, keikhlasan, dan keberlanjutan.

"Filosofi ini sangat relevan dengan etos pesantren," ujar Irfanudin. "Para pendiri pesantren bekerja total, terkadang tanpa melihat hasil nyata selama puluhan tahun. Namun, mereka terus melangkah karena yang menggerakkan bukan pengakuan manusia, melainkan iman dan ihtisab yang kuat." Dedikasi tanpa pamrih inilah yang menjadikan pesantren sebagai "organisme" hidup yang terus menumbuhkan generasi berkarakter.

Berjamaah: Melipatgandakan Pahala dan Mempererat Ukhuwah

Tak berhenti di situ, santri tersebut kembali melontarkan pertanyaan lain: mengapa shalat tarawih dianjurkan berjamaah, padahal shalat sendiri juga sah? Irfanudin tersenyum, menunjuk ke arah saf shalat yang baru saja digunakan. "Shalat sendiri itu baik, Nak. Namun, shalat berjamaah memiliki keistimewaan yang melipatgandakan pahala dan mempererat tali persaudaraan," jelasnya.

Ia mengutip hadis lain yang diriwayatkan Imam Muslim dari Utsman bin Affan: "Barang siapa yang shalat Isya berjamaah, maka seolah-olah ia shalat setengah malam. Dan barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, maka seolah-olah ia shalat semalam penuh." Meskipun hadis ini secara spesifik menyebut Isya dan Subuh, semangat berjamaah dalam Qiyam Ramadan juga membawa keberkahan serupa. Kehadiran bersama dalam ibadah menciptakan energi spiritual kolektif yang sulit didapatkan saat shalat sendirian.

Melalui percakapan di malam Ramadan itu, Irfanudin menegaskan bahwa esensi Qiyam Ramadan di pesantren bukan hanya tentang ritual yang sempurna secara fisik, melainkan tentang penanaman nilai-nilai keimanan, keikhlasan, dan kebersamaan. Ini adalah fondasi yang membentuk karakter santri dan menjaga keberlangsungan ‘organisme’ pesantren dalam mencetak generasi penerus yang berintegritas.

Bayu Nata
Author: Bayu Nata

jurnalis di Suara Media yang fokus pada isu-isu sosial-politik dan tata kelola pemerintahan daerah. Tulisannya sering menyoroti kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan perkembangan dinamika politik di tingkat regional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar