TERNYATA! Kunci Cegah Karhutla Ada Sepanjang Tahun!

TERNYATA! Kunci Cegah Karhutla Ada Sepanjang Tahun!

suaramedia.id – Jakarta – Para pakar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendesak perubahan paradigma dalam penanganannya, beralih dari respons reaktif menjadi strategi pencegahan berbasis risiko yang terintegrasi dan berkelanjutan sepanjang tahun. Pendekatan ini, yang digagas oleh Raffles B Panjaitan, Asep Karsidi, dan Sugijanto Soewadi dalam podcast Forest Insights, dinilai krusial untuk mengakhiri siklus bencana asap yang kerap melanda Indonesia.

Selama ini, perhatian terhadap karhutla cenderung memuncak saat bencana asap sudah meluas. Padahal, menurut Raffles B Panjaitan, seorang pakar karhutla, upaya pengendalian harus mencakup pencegahan, penanggulangan, hingga pemulihan lahan terbakar secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pencegahan tidak boleh menunggu musim kemarau tiba, melainkan harus menjadi sebuah sistem komprehensif yang dirancang dan diimplementasikan sejak awal tahun.

TERNYATA! Kunci Cegah Karhutla Ada Sepanjang Tahun!
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Raffles menjelaskan, pencegahan karhutla yang efektif merupakan sebuah sistem komprehensif yang memadukan tiga pilar utama. Pertama, analisis dan perencanaan, meliputi monitoring dan informasi cuaca secara berkala, analisis wilayah rawan, serta penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) sejak dini saat potensi awan masih memadai.

Kedua, pengendalian operasional yang melibatkan satgas terpadu, sistem deteksi dini yang akurat, kesiapan tim pemadaman darat dan udara, pengaktifan posko taktis di lapangan, penegakan hukum yang tegas, serta pelibatan aktif Masyarakat Peduli Api (MPA) di garis depan.

Ketiga, pengelolaan lanskap yang berkelanjutan, dengan menggerakkan para pemilik lahan, mendukung praktik pertanian tradisional yang aman, pengelolaan lahan gambut yang terintegrasi dengan pengelolaan air (seperti sekat kanal dan embung), pemanfaatan teknologi pemantauan, kesiapan personel, dan partisipasi aktif masyarakat di tingkat tapak.

"Kegiatan pencegahan harus dirancang sejak awal tahun, bahkan sejak Januari, Februari, dan Maret, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan," ujar Raffles. Ia merujuk pada pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola di tingkat tapak, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi, hingga masyarakat luas sebagai elemen yang tak terpisahkan dalam upaya ini.

Intervensi berbasis cuaca, termasuk Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), memang penting. Namun, Raffles mengingatkan bahwa air hujan yang dihasilkan harus dikelola secara bijak melalui sekat kanal, embung, dan infrastruktur penampungan lainnya. Tujuannya adalah menjaga kelembapan lahan, khususnya gambut, agar tetap basah saat musim kemarau tiba. Pengalaman 10 tahun terakhir menunjukkan, keberhasilan TMC dapat memperpanjang musim hujan hingga satu bulan, sekaligus memperpendek musim kemarau.

Koordinasi yang solid antar berbagai elemen seperti satuan tugas, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, aparat kewilayahan, pemerintah desa, dan tim perusahaan sangat krusial. Pencegahan akan jauh lebih efektif jika patroli rutin, kesiapan sumber air, dan pengamanan lokasi rawan dilakukan sebelum munculnya titik api.

Ia juga meluruskan pemahaman tentang titik panas atau hotspot. "Hotspot merupakan alarm awal, bukan secara otomatis titik api," jelasnya. Informasi satelit ini memerlukan verifikasi lapangan, dengan memprioritaskan titik yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi. "Setelah terdeteksi, harus segera dilakukan ground check untuk memastikan apakah benar terdapat api sehingga respons yang diberikan tepat, cepat, dan sesuai dengan kondisi lapangan," pungkas Raffles, menekankan prinsip ‘api kecil sebagai kawan, tapi kalau api besar maka menjadi lawan’ dalam penanganan karhutla.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar