Rahasia Kepemimpinan Pesantren: Bukan Sekadar Jabatan!

suaramedia.id – Konsep kepemimpinan seringkali diidentikkan dengan figur yang berada di garis terdepan, memberikan arahan dan menjadi teladan. Namun, bagaimana jika prinsip ini diterapkan dalam ekosistem pesantren yang dinamis dan kompleks? Menurut Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, memahami kepemimpinan di pesantren memerlukan lensa yang berbeda, jauh dari sekadar struktur hierarkis konvensional.

Irfanudin menekankan bahwa pesantren, sebagai sebuah organisme hidup, menuntut pemahaman kepemimpinan yang jauh dari pendekatan mekanis layaknya perusahaan atau lembaga pemerintahan. Di sini, kepemimpinan bukan sekadar posisi struktural, melainkan sebuah fungsi vital yang meresap dan tersebar ke seluruh jaringan kehidupan pesantren, menjadikannya sistem yang kompleks dan saling bergantung.

Rahasia Kepemimpinan Pesantren: Bukan Sekadar Jabatan!
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Kiai: Otak Pesantren, Jaringan Saraf yang Hidup

Analoginya mirip dengan sistem saraf pusat dalam tubuh manusia. Jika kiai atau pengasuh diibaratkan sebagai "otak" yang memancarkan visi dan arah, maka keberlangsungan visi tersebut sangat bergantung pada "jaringan saraf" yang lebih luas. Jaringan ini meliputi para ustadz, santri senior, pengurus, alumni, bahkan masyarakat sekitar. Tanpa sinergi dari elemen-elemen ini, visi kepemimpinan hanya akan menjadi konsep mati, tak ubahnya otak yang terputus dari tubuh.

Model kepemimpinan kolektif ini terlihat jelas pada sosok KH. Mahrus Amin di Darunnajah. Bersama KH. Abdul Manaf dan KH. Qomaruzzaman, mereka menyadari bahwa sebuah "pohon pisang" yang hanya mengandalkan satu batang utama akan mudah tumbang. Oleh karena itu, tunas-tunas kepemimpinan harus didorong untuk tumbuh, memiliki akar dan batangnya sendiri, namun tetap membawa "DNA" atau nilai-nilai inti yang sama. Inilah esensi "the law of the lead" dalam konteks organik pesantren: pemimpin tidak hanya memimpin, tetapi juga menciptakan sistem yang memungkinkan kepemimpinan tumbuh dan berkembang di mana-mana.

Dua Sayap Kepemimpinan: Totalitas dan Keikhlasan

Irfanudin juga menyoroti dua pilar fundamental, ibarat "dua sayap" yang tak boleh pincang, dalam kepemimpinan pesantren: "all out" dan "lillah". Sayap pertama, "all out", menuntut totalitas dan komitmen penuh dari seorang pemimpin. Tidak ada ruang untuk setengah-setengah.

Filosofi "all out" ini tercermin dalam mantra keras yang kerap digaungkan oleh KH. Abdullah Syukri Zarkasyi di Gontor: "Lambat terbabat, malas tergilas, berhenti mati, mundur hancur." Sebuah peringatan tegas bahwa totalitas adalah kunci kelangsungan, bukan sekadar slogan, melainkan hukum tak terhindarkan dalam dinamika organisasi yang ingin bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Contoh nyata lain datang dari KH. Nawawi Thoyib di Sidogiri, yang dengan totalitas merintis ekonomi pesantren dari nol. Motivasi utamanya bukan kekayaan pribadi, melainkan untuk membebaskan umat dari jeratan rentenir. Hasilnya, BMT Sidogiri kini telah berkembang pesat dengan 256 cabang, menjadi bukti nyata kekuatan kepemimpinan yang total dan berorientasi pada kemaslahatan. Demikian pula dengan KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, yang melalui dedikasi "all out" dan "lillah", berhasil mewariskan sanad keilmuan yang tak terputus dan menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.

Dengan demikian, kepemimpinan di pesantren bukanlah sekadar mandat yang diemban satu individu, melainkan sebuah ekosistem dinamis yang menuntut totalitas, dedikasi lillahi ta’ala, dan kemampuan untuk menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru di setiap jaringannya. Sebuah model yang relevan tidak hanya bagi pesantren, tetapi juga bagi organisasi lain yang ingin membangun keberlanjutan dan dampak jangka panjang.

Bayu Nata
Author: Bayu Nata

jurnalis di Suara Media yang fokus pada isu-isu sosial-politik dan tata kelola pemerintahan daerah. Tulisannya sering menyoroti kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan perkembangan dinamika politik di tingkat regional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar