Investasi Emas! Kesejahteraan Guru Kunci Ekonomi Bangsa

Investasi Emas! Kesejahteraan Guru Kunci Ekonomi Bangsa

suaramedia.id – Di tengah perdebatan sengit mengenai efektivitas belanja negara, alokasi dana untuk kesejahteraan guru kerap kali dicap sebagai beban rutin. Namun, pandangan tersebut dibantah tegas oleh Faozan Amar, Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA, yang justru melihatnya sebagai investasi strategis yang krusial bagi perekonomian nasional.

Menurut Faozan, tunjangan dan insentif yang diterima para pendidik bukan sekadar pengeluaran, melainkan pendorong roda ekonomi. Dampaknya meluas, mulai dari penguatan daya beli masyarakat, peningkatan produktivitas dalam ekosistem pendidikan, hingga pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia secara berkelanjutan.

Investasi Emas! Kesejahteraan Guru Kunci Ekonomi Bangsa
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

Peran guru dalam membentuk peradaban tak terbantahkan. Selain orang tua, guru adalah figur paling berpengaruh yang tak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan karakter, nilai-nilai luhur, dan pola pikir kritis pada generasi penerus. Tak heran jika dalam budaya kita dikenal adagium ‘guru digugu dan ditiru’, di mana ucapan dan perilakunya menjadi panutan.

Sayangnya, idealisme mulia ini seringkali berbenturan dengan realitas ekonomi yang pahit. Tak sedikit pendidik yang masih harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup. Dari kacamata ekonomi pendidikan, kondisi ini bukan sekadar isu sosial, melainkan faktor struktural yang secara langsung memengaruhi mutu pembelajaran dan pembangunan SDM. Sebuah laporan UNESCO pada tahun 2021 bahkan secara tegas menyatakan bahwa kualitas sistem pendidikan suatu negara tidak akan pernah melampaui kualitas dan tingkat kesejahteraan para gurunya.

Implikasi dari minimnya kesejahteraan ini juga terasa pada regenerasi profesi guru. Narasi tentang kehidupan guru yang serba pas-pasan secara signifikan mengurangi minat generasi muda untuk berkecimpung di dunia pendidikan. Sebuah riset oleh Yohana Setyani dan Fahrur Rozi (2025) mengindikasikan bahwa kesejahteraan guru memiliki pengaruh sebesar 6,66% terhadap minat seseorang dalam memilih profesi ini. Temuan ini diperkuat oleh studi Dolton dan Marcenaro-Gutierrez (2011) yang secara konsisten menunjukkan korelasi erat antara tingkat remunerasi guru dengan ketersediaan pasokan pendidik berkualitas dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, memandang kesejahteraan guru sebagai beban anggaran adalah kekeliruan fatal. Sebaliknya, ini adalah investasi jangka panjang yang akan membuahkan hasil berupa SDM unggul dan perekonomian yang lebih kokoh di masa depan.

Bayu Nata
Author: Bayu Nata

jurnalis di Suara Media yang fokus pada isu-isu sosial-politik dan tata kelola pemerintahan daerah. Tulisannya sering menyoroti kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan perkembangan dinamika politik di tingkat regional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar