suaramedia.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tengah menjadi sorotan setelah menerima pemberitahuan resmi dari otoritas kesehatan Australia mengenai seorang pasien campak yang teridentifikasi memiliki riwayat perjalanan dari Indonesia. Kasus ini memicu respons cepat dari Kemenkes untuk melakukan penelusuran dan koordinasi lintas negara demi mencegah penyebaran lebih lanjut.

Related Post
Informasi krusial ini diterima melalui saluran resmi International Health Regulations (IHR), sebuah mekanisme global untuk pertukaran informasi kesehatan publik antarnegara. Setelah diterima, data tersebut segera melalui proses verifikasi dan tindak lanjut oleh Public Health Emergency Operation Centre (PHEOC) Kemenkes.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, yang disampaikan pada Minggu (22/2/2026), pasien yang dimaksud adalah seorang perempuan berusia 18 tahun. Ia diketahui telah menerima vaksinasi MMR lengkap pada tahun 2009 dan 2012. "Yang bersangkutan melakukan perjalanan menggunakan Batik Air dengan rute Jakarta–Perth pada tanggal 7 hingga 8 Februari 2026," jelas Aji.
Gejala ruam pada pasien mulai muncul pada 8 Februari setibanya di Perth, Australia. Hasil tes PCR kemudian mengonfirmasi positif campak. Hingga saat ini, dilaporkan hanya ada satu kasus tanpa adanya kematian. Situasi ini mendorong Kemenkes untuk segera melakukan koordinasi intensif lintas negara melalui mekanisme IHR antara Indonesia dan Australia. Selain itu, Kemenkes juga berkoordinasi dengan kantor WHO Indonesia untuk memastikan respons yang diberikan sesuai dengan standar internasional.
Meski demikian, pihak Australia masih terus melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap kasus ini dan belum merilis informasi yang lebih rinci kepada Kemenkes. Indonesia berkomitmen untuk terus memantau perkembangan dan berkoordinasi erat dengan pihak berwenang Australia serta WHO guna memastikan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian yang efektif.










Tinggalkan komentar