suaramedia.id – Menjelang perhelatan akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan pada 27-30 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jawa Timur, sebuah seruan kontroversial menggema dari Kiai Kampung asal Situbondo, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau akrab disapa Gus Lilur. Ia secara terang-terangan menginisiasi "GERBANG TOLL PBNU" (Gerakan Bareng Tolak LPJ PBNU), sebuah ajakan kepada para muktamirin untuk menolak Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar NU periode yang akan berakhir.

Related Post
Dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (21/8/2026), Gus Lilur menegaskan bahwa inisiatif ini bukan dilandasi sentimen anti-NU atau permusuhan terhadap pengurus, melainkan sebagai upaya mendorong penggunaan hak organisasional secara objektif, transparan, dan bertanggung jawab. Menurutnya, forum Muktamar adalah momen krusial di mana mandat kepemimpinan dikembalikan, dan keputusan atas LPJ bukan sekadar formalitas ucapan terima kasih, melainkan validasi resmi atas kinerja kepengurusan.

"Di ruang sidang Muktamar, kita tidak hanya diminta mengenang, tetapi diminta memutuskan," ujar Gus Lilur. Ia menyoroti tradisi yang kerap berlaku di lingkungan NU, di mana kebaikan pengurus yang purna khidmah selalu disebut, sementara kekurangannya disimpan rapat-rapat, sebuah praktik yang ia sebut sebagai "husnuzhan" atau "sungkan". Namun, untuk konteks LPJ, ia merasa tradisi tersebut tidak bisa dipertahankan. "Dengan segala hormat dan takzim kepada para masyayikh, hal itu tidak bisa saya benarkan," tegasnya.
Pangkal keberatan Gus Lilur terletak pada gejolak internal PBNU yang sempat menjadi konsumsi publik pada akhir 2025. Ia mengungkapkan kekecewaannya melihat "pengurus besar mereka saling memberhentikan di depan umum," sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan oleh warga NU. Konflik terbuka antara Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal, lengkap dengan klaim keabsahan dari dua kubu yang saling berbalas di layar televisi, kanal YouTube, hingga grup WhatsApp ranting, dinilai telah mencoreng marwah organisasi.
Dampak dari perseteruan tersebut, menurut Gus Lilur, terasa hingga ke akar rumput. "Ibu-ibu Muslimat di kampung saya yang biasanya berdebat jadwal khataman, kini malah membahas kuorum rapat harian Syuriyah. Anak-anak muda Ansor yang seharusnya fokus pada pengembangan koperasi, justru sibuk menghafal nama hotel tempat rapat di Jakarta," keluhnya. Ia menyebut fenomena ini sebagai "penularan penyakit" dalam berorganisasi, bukan pendidikan.
Meskipun mengapresiasi upaya islah yang telah ditempuh para kiai sepuh dari Ploso, Lirboyo, dan Tebuireng yang memungkinkan Muktamar tetap terselenggara, Gus Lilur tetap menuntut akuntabilitas konkret. Ia menantang PBNU untuk menunjukkan hasil nyata dari masa khidmahnya. "Sebutkan satu kampus yang dibangun PBNU mandataris Muktamar Lampung. Satu saja. Sebutkan satu rumah sakit yang berdiri karenanya. Satu saja," pintanya.
Gus Lilur menekankan bahwa yang ia maksud adalah institusi yang benar-benar fungsional: memiliki sertifikat tanah, dosen yang digaji, serta dokter jaga yang siap melayani warga, bahkan pada dini hari. Seruan ini diprediksi akan menjadi salah satu agenda krusial yang akan mewarnai dinamika Muktamar ke-35 NU di Tambakberas.








Tinggalkan komentar