suaramedia.id – Perdebatan sengit terkait keaslian ijazah Presiden Joko Widodo kembali memanas setelah Ketua Umum Jokman Nusantara Bersatu, Andi Azwan, secara blak-blakan membantah hasil penelitian pakar telematika Roy Suryo. Azwan menuding metode riset yang digunakan Roy dalam menganalisis foto di ijazah S1 Jokowi sudah usang dan ketinggalan zaman, memicu polemik baru di tengah masyarakat.

Related Post
Dalam sebuah tayangan program televisi ‘Rakyat Bersuara’ di iNews baru-baru ini, Andi Azwan menjelaskan bahwa Roy Suryo mengandalkan metode Vision Geometry Group (VGG) Face untuk meneliti keaslian foto tersebut. Menurut Azwan, pendekatan VGG Face sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan teknologi saat ini. "Saya mau bantah lagi yang mengenai penelitian dia mengenai image processing ya, dia menggunakan VGG (Vision Geometry Group) Face, itu ketinggalan zaman, saya pakai RetinaFace," tegas Andi, menukil pernyataannya di acara tersebut.

Untuk memperkuat argumennya, Andi Azwan tidak hanya berbicara. Ia turut menyajikan bukti komparatif melalui videotron yang terpampang di panggung. Dua foto Jokowi ditampilkan: pertama, potret Presiden dengan kacamata yang tertera di ijazah S1; kedua, foto Jokowi seorang diri saat menjabat sebagai presiden. Perbandingan visual ini dimaksudkan untuk menunjukkan konsistensi dan keaslian foto yang dipermasalahkan, sekaligus membuktikan bahwa metode yang ia gunakan lebih akurat.
Bantahan keras dari Andi Azwan ini menambah daftar panjang polemik seputar ijazah orang nomor satu di Indonesia. Sebelumnya, isu keaslian ijazah Jokowi telah beberapa kali mencuat dan menjadi perbincangan publik, memicu berbagai analisis dan perdebatan dari berbagai pihak. Dengan klaim penggunaan metode yang lebih mutakhir seperti RetinaFace, Andi Azwan berupaya memberikan perspektif baru dalam menjawab keraguan yang selama ini beredar, sekaligus menantang validitas temuan Roy Suryo.











Tinggalkan komentar