suaramedia.id – Kancah politik nasional kembali diwarnai perdebatan hangat menyusul pertemuan Presiden terpilih Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh yang dikenal kritis terhadap pemerintah. Pakar komunikasi politik terkemuka, Lely Arrianie, menyoroti potensi dua sisi mata uang dari agenda tersebut: bisa menjadi anugerah yang memperkaya demokrasi, atau justru musibah yang mengancam daya kritis. Pernyataan ini dilontarkan Lely dalam program ‘Rakyat Bersuara’ di iNews, Selasa (10/2/2026), memicu diskusi tentang implikasi jangka panjang.

Related Post
Menurut Lely, indikator utama yang akan menentukan arahnya adalah sejauh mana para tokoh tersebut mampu mempertahankan objektivitas dan ketajaman kritik mereka. Jika pasca-pertemuan, suara-suara kritis yang selama ini lantang justru meredup atau bahkan menghilang, maka ini bisa menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan demokrasi. Fenomena ini dikhawatirkan dapat menciptakan ilusi konsensus yang semu, padahal ruang dialektika justru menyempit.

Sebaliknya, jika para tokoh kritis tetap konsisten menyuarakan pandangan konstruktif dan berfungsi sebagai penyeimbang kekuasaan, maka pertemuan tersebut akan menjadi anugerah. Kehadiran mereka, seperti yang disinggung Lely dengan menyebut nama Susno Duadji dan rekan-rekan, dapat menjadi katalisator bagi perbaikan kebijakan dan akuntabilitas pemerintah. Ini menunjukkan bahwa pemimpin terbuka terhadap masukan, bahkan dari pihak yang berseberangan.
Lely juga menggarisbawahi bahwa setiap presiden di Indonesia, dari era Soekarno hingga Prabowo, memiliki corak komunikasi politik yang unik. Ia menjelaskan, dalam kerangka teori self-compassion, seorang pemimpin yang bijak akan mengevaluasi diri dengan welas asih dan berupaya merumuskan kebijakan demi kebaikan rakyat. Dari sini, berkembanglah konsep common humanity, yang secara inheren membuka ruang bagi munculnya para pengkritik sebagai bagian tak terpisahkan dari dinamika bernegara. Para pengkritik, menurut Lely, bukanlah musuh, melainkan cerminan dari kebutuhan akan perbaikan dan penyempurnaan.
Waktu akan menjadi hakim tunggal untuk menjawab apakah pertemuan strategis ini akan mengukuhkan fondasi demokrasi atau justru menumpulkan semangat kritis yang esensial. Masyarakat menanti dengan seksama, berharap bahwa dialog yang terjadi akan membawa kemajuan nyata, bukan sekadar formalitas yang berujung pada keheningan.










Tinggalkan komentar