suaramedia.id – Juru Bicara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Guntur Romli, dengan tegas membantah tuduhan yang dilayangkan oleh kelompok yang mengatasnamakan diri BEM Bersatu. Tuduhan tersebut mengaitkan PDIP dengan aksi-aksi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah klaim yang disebut Romli sebagai "fitnah tak berdasar" dan "absurd."

Related Post
Berbicara di Jakarta, Guntur Romli menyatakan bahwa pihaknya merasa perlu untuk meluruskan distorsi informasi dan penyesatan opini yang secara sengaja dibangun. Ia menegaskan, narasi yang dibangun BEM Bersatu berupaya menciptakan distorsi informasi dan penyesatan opini melalui metode "cocokologi" yang dinilai sangat dipaksakan.

"Tuduhan yang mencoba mengaitkan aksi penolakan mahasiswa terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan PDIP merupakan fitnah tak berdasar, absurd, dan mencederai integritas gerakan moral mahasiswa," tegas Guntur Romli dalam keterangan persnya yang diterima suaramedia.id baru-baru ini.
PDIP kemudian merinci poin-poin bantahan terhadap tuduhan tersebut. Pertama, Guntur Romli menyebut logika yang digunakan BEM Bersatu sebagai "kegilaan logika cocokologi yang dipaksakan." Menurutnya, upaya mengaitkan keterlibatan PDI Perjuangan hanya disandarkan pada mata rantai asumsi yang sangat dipaksakan dan terkesan menggelikan.
Faktanya, Guntur Romli menjelaskan bahwa Siti Nuraeni dan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, nama-nama yang disebut dalam tuduhan tersebut, bukanlah kader maupun pengurus PDI Perjuangan.
"Menghubungkan kepemilikan sebuah kendaraan (mobil Fortuner) milik seorang warga sipil (Siti Nuraeni), lalu ditarik ke hubungan persaudaraan (Setyo Sularso), kemudian ditarik lagi ke hubungan besan (Andika Perkasa), untuk kemudian melompat pada kesimpulan bahwa PDI Perjuangan berada di balik aksi mahasiswa, adalah sesat pikir (fallacy) yang nyata," urai Guntur Romli.
Ia menambahkan, dalam realitas sosial dan politik, pilihan politik antara adik, kakak, maupun besan belum tentu sama dan tidak bisa digeneralisir secara serampangan. PDIP menganggap upaya "cocokologi" ini sebagai bentuk penyesatan publik yang serius.










Tinggalkan komentar