PBNU: Iduladha 2026, Seruan Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka!

PBNU: Iduladha 2026, Seruan Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka!

suaramedia.id – Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk ketegangan global dan krisis kemanusiaan yang tak kunjung mereda, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan agar momentum Iduladha 1447 Hijriah atau tahun 2026 ini menjadi pengingat fundamental akan nilai-nilai kemanusiaan yang mulai terkikis. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, KH. Macshoem Faqih, menegaskan bahwa perayaan kurban tahun ini hadir sebagai refleksi mendalam bagi dunia yang sedang terluka.

Dalam refleksi Iduladha 2026 pada Minggu (24/5/2026), KH. Macshoem Faqih menyoroti kondisi global yang penuh ketegangan. Konflik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ditambah dengan berbagai krisis kemanusiaan serta tekanan ekonomi, telah menciptakan ketidakpastian yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. "Di saat gema takbir berkumandang, dunia justru sedang dipenuhi kabar tentang perang, ketegangan politik, dan krisis kemanusiaan yang belum juga reda," ujar Gus Macshoem. Ia menambahkan, dampak nyata dari situasi ini terlihat dari naiknya harga kebutuhan pokok dan melemahnya rasa aman sosial di berbagai belahan dunia.

PBNU: Iduladha 2026, Seruan Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka!
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Bagi KH. Macshoem Faqih, yang juga merupakan Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Iduladha bukan sekadar perayaan tahunan atau ritual penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, ia adalah penanda penting untuk menginternalisasi kembali nilai-nilai kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan di tengah masyarakat yang semakin individualistis dan cenderung pragmatis.

Gus Macshoem memaparkan bahwa kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung pesan universal tentang bagaimana manusia menjaga kemanusiaannya ketika menghadapi ujian hidup yang berat. "Kesabaran yang diajarkan Iduladha bukanlah sikap menyerah tanpa daya, melainkan kemampuan luar biasa untuk menjaga arah hidup dan pikiran jernih ketika menghadapi ujian terberat," papar Gus Macshoem.

Ia mengamati bahwa tekanan hidup modern, ditambah dengan dinamika media sosial, seringkali membuat individu mudah terpancing emosi, putus asa, dan kehilangan ketenangan. Berbagai platform digital, menurutnya, kerap menjadi arena pertengkaran dan kemarahan yang memperlihatkan rapuhnya kesabaran. "Padahal, kesabaran adalah kekuatan inti yang membimbing manusia tetap berpikir rasional saat badai emosi melanda," imbuhnya.

Selain kesabaran, Gus Macshoem juga menggarisbawahi esensi ketaatan di tengah budaya serba instan yang kerap mendorong manusia mengejar keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan kejujuran dan amanah. "Kita menyaksikan bagaimana perebutan kepentingan dan ambisi kekuasaan kian membuat dunia gaduh, dan ironisnya, masyarakat kecil lah yang paling merasakan dampaknya," tegas Gus Macshoem, mengingatkan bahwa Iduladha adalah momentum untuk kembali pada integritas dan kepedulian sosial.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar