suaramedia.id – Dinamika geopolitik dunia saat ini tengah menjadi medan tempur narasi yang berbahaya bagi stabilitas domestik. Di tengah tingginya empati masyarakat terhadap berbagai konflik internasional, terdapat ancaman nyata berupa penyusupan agenda kelompok ekstremis yang memanfaatkan situasi global untuk kepentingan ideologi tertentu.

Related Post
Pengamat keamanan dan terorisme dari Universitas Indonesia (UI), Muhamad Syauqillah, mengungkapkan bahwa kelompok radikal secara konsisten mencari celah dalam setiap gejolak politik dunia. Isu-isu sensitif, mulai dari krisis di Timur Tengah hingga isu sekularisme di wilayah lain, kerap dibajak untuk mendelegitimasi sistem negara yang sah.

Menurut Syauqillah, kelompok-kelompok ini menggunakan pola propaganda yang serupa namun dengan variasi isu yang berbeda. Mereka membungkus narasi konflik global dengan agenda perpecahan serta upaya memaksakan sistem tunggal seperti khilafah.
"Propaganda ini sebenarnya adalah sebuah pola atau template. Mereka selalu merespons dinamika yang terjadi, seperti fenomena di Suriah atau era Arab Spring, lalu mengimpor narasi tersebut dengan berbagai varian ideologi untuk menyusupkan agenda mereka," ujar Syauqillah di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Ia menambahkan bahwa isu luar negeri sengaja dieksploitasi untuk mereproduksi narasi yang bertujuan meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Dengan memanfaatkan sentimen kemanusiaan, kelompok ekstrem ini mencoba mengkapitalisasi gerakan radikalisme agar terlihat sebagai gerakan yang membela keadilan, padahal bertujuan untuk menciptakan ketidakstabilan.
Fenomena ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih kritis dalam menyaring informasi yang datang dari luar negeri, agar tidak terjebak dalam manipulasi propaganda yang dapat mengancam persatuan bangsa.










Tinggalkan komentar