suaramedia.id – Peta politik Amerika Serikat mengalami pergeseran drastis pasca Pemilu Sela pada 3 November 2026. Kekalahan telak Partai Republik dalam ajang tersebut menjadi tamparan keras bagi Donald Trump. Partai Demokrat kini berhasil menyapu bersih kendali atas dua kamar legislatif, yakni House of Representatives dan Senat, yang menandai dimulainya era Divided Government.

Related Post
Kondisi ini menciptakan dinamika baru di Washington. Meski Trump masih menjabat sebagai Presiden hingga akhir masa tugasnya, ia tidak lagi memegang kendali absolut atas jalannya pemerintahan. Ia kini harus berhadapan langsung dengan Kongres yang didominasi oleh lawan politiknya.

Sisa-Sisa Kekuatan Trump
Walaupun ruang geraknya menyempit, Trump masih memegang tiga instrumen krusial untuk mempertahankan pengaruhnya:
Pertama, hak Veto. Trump tetap memiliki wewenang untuk menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) yang disahkan oleh Kongres. Meski demikian, kekuatan ini tidak mutlak, karena Kongres dapat membatalkan veto tersebut jika berhasil mengumpulkan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar.
Kedua, Perintah Eksekutif (Executive Order). Trump masih bisa merumuskan kebijakan tanpa harus menunggu persetujuan legislatif, selama kebijakan tersebut tidak menabrak konstitusi. Namun, langkah ini rentan terhadap gugatan hukum di pengadilan jika dianggap melampaui batas kewenangan presiden.
Ketiga, peran sebagai Panglima Tertinggi (Commander-in-Chief). Trump tetap memegang komando militer dan otoritas kebijakan luar negeri. Namun, dalam urusan pendanaan militer dan keputusan perang yang strategis, ia tetap harus bernegosiasi dengan Kongres.
Hambatan Besar di Depan Mata
Dominasi Demokrat di Kongres diprediksi akan melumpuhkan tiga pilar utama agenda Trump. Pertama, dalam hal Legislasi, setiap upaya pengesahan undang-undang baru akan menemui jalan buntu. Agenda politik Trump kemungkinan besar akan ditahan, diubah, atau bahkan ditolak mentah-mentah oleh Senat dan DPR.
Kedua, kendali atas Anggaran Negara kini bukan lagi di tangan Trump. Mengingat Kongres memegang kunci alokasi dana federal, program-program ikonik seperti gerakan MAGA, proyek infrastruktur, hingga pendanaan pembangunan tembok perbatasan akan menghadapi pertarungan anggaran yang sengit.
Dengan situasi ini, narasi "I am the Law" yang sempat melekat pada Trump kini mulai luntur. Ia kini harus belajar berpolitik dalam sistem yang penuh dengan check and balances yang sangat ketat.



Tinggalkan komentar