suaramedia.id – Fenomena kelangkaan beras di rak-rak ritel modern kembali menjadi sorotan tajam. Situasi yang telah berlangsung empat hingga lima bulan terakhir ini, khususnya untuk varian premium, membangkitkan memori akan krisis serupa tahun lalu. Menurut Khudori, seorang Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO dan Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI, kondisi ini mengindikasikan adanya pola berulang yang memerlukan penanganan serius dari pemerintah.

Related Post
Tak hanya beras premium, konsumen juga dihadapkan pada minimnya ketersediaan beras fortifikasi, jenis beras yang diperkaya vitamin dan mineral. Kesulitan ini diperparah dengan keputusan otoritas pada 15 September lalu untuk menarik 25 merek beras fortifikasi dari pasaran, menyusul dugaan ketidaksesuaian standar mutu dan klaim kandungan pada label kemasan. Akibatnya, opsi bagi konsumen untuk beralih dari beras premium ke fortifikasi menjadi tertutup.

Observasi di berbagai hipermarket, supermarket, dan minimarket di sejumlah wilayah menunjukkan rak-rak beras yang kosong, bahkan diganti dengan produk lain. Seorang penjaga toko yang diwawancarai suaramedia.id mengungkapkan, "Sudah beberapa hari beras kosong. Karena ada penarikan produk." Di beberapa gerai lain, yang tersedia hanyalah beras khusus seperti beras merah atau beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Harga Pangan) kualitas medium yang didistribusikan oleh BULOG.
Menanggapi krisis ini, pemerintah melalui Perum BULOG berupaya keras menstabilkan pasokan. Manajemen BULOG mengklaim telah mengucurkan 110.000 ton beras setiap bulan ke jaringan ritel modern, dengan rincian 75.000 ton beras premium dan 35.000 ton beras medium. Selain itu, BULOG juga menyiapkan 300.000 ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang rencananya akan diolah menjadi beras premium melalui kerja sama dengan Perpadi. Namun, Khudori menambahkan, "Sependek pengetahuan saya, rencana penggunaan CBP ini belum mendapatkan persetujuan resmi."
Pernyataan Khudori ini menyoroti tantangan yang masih harus dihadapi pemerintah dalam memastikan ketersediaan beras yang merata dan stabil. Masyarakat kini menanti efektivitas jurus-jurus yang disiapkan pemerintah untuk mengakhiri krisis beras yang berulang ini, agar rak-rak supermarket kembali terisi dan harga tetap terjangkau.










Tinggalkan komentar