Nasib Gibran di Ujung Tanduk, Prabowo Dilema?

Nasib Gibran di Ujung Tanduk, Prabowo Dilema?

suaramedia.id – Dinamika politik nasional kini tengah memasuki fase yang sangat krusial dan penuh ketidakpastian. Pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 6 Oktober 2026 yang menyatakan tidak ditemukannya bukti konkret terkait penyetaraan ijazah luar negeri bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sebuah persoalan hukum baru justru muncul ke permukaan. Meski MK tidak melakukan diskualifikasi, celah mengenai pemenuhan syarat pendidikan minimal ini menjadi bola panas yang kini berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.

Analis Politik dan Militer dari Universitas Nasional (Unas), Dr. Selamat Ginting, menilai situasi ini menempatkan Prabowo pada posisi yang sangat sulit, yakni di antara kepentingan konstitusi dan realitas politik. Persoalan utamanya bukan sekadar mempertahankan posisi Gibran, melainkan sejauh mana Prabowo berani menjaga jarak dari bayang-bayang pengaruh Joko Widodo (Jokowi) saat isu hukum putra sulung mantan presiden tersebut semakin memanas.

Nasib Gibran di Ujung Tanduk, Prabowo Dilema?
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Kondisi ini memicu pergeseran peta kekuatan di parlemen, terutama terkait bagaimana partai-partai besar merespons isu ini:

PDIP: Menjaga Jarak dari Dinasti
Hubungan antara Jokowi dan PDIP telah mencapai titik nadir setelah keputusan DPP PDIP pada Desember 2024 yang mencopot Jokowi, Gibran, dan Bobby Nasution dari keanggotaan partai. Bagi PDIP, polemik ijazah ini bisa menjadi instrumen evaluasi politik atas proses pencalonan wakil presiden di masa lalu. Menariknya, suaramedia.id mencatat bahwa sikap kritis PDIP terhadap isu Gibran tidak lantas menutup pintu kerja sama dengan pemerintahan Prabowo, asalkan tidak terikat pada kepentingan politik keluarga Jokowi.

Demokrat: Trauma Masa Lalu
Partai Demokrat membawa memori kelam terkait intervensi politik pada era Jokowi, terutama melalui peristiwa KLB Deli Serdang yang melibatkan Moeldoko pada 2021. Meskipun kini Demokrat berada dalam barisan koalisi pemerintah, pengalaman "operasi istana" di masa lalu membuat mereka cenderung berhati-hati. Demokrat kemungkinan besar akan tetap menjaga stabilitas koalisi, namun tidak akan memberikan pembelaan buta jika kepentingan politik Jokowi mulai berbenturan dengan stabilitas pemerintahan Prabowo.

Nasdem: Independensi di Tengah Arus
Nasdem juga menunjukkan pola yang berbeda. Meski sempat menjadi pilar pendukung Jokowi, langkah Surya Paloh yang memilih mengusung Anies Baswedan pada Pilpres 2024 membuktikan bahwa partai ini memiliki kalkulasi mandiri. Hal ini memberi sinyal bahwa Nasdem tidak akan ragu mengambil posisi yang berbeda jika arah politik Jokowi dianggap tidak sejalan dengan kepentingan partai atau stabilitas nasional.

Kini, publik menanti langkah strategis Presiden Prabowo. Apakah ia akan tetap solid menjaga koalisi, atau justru mengambil langkah tegas demi menjaga marwah konstitusi dan kemandirian pemerintahannya dari pengaruh politik masa lalu?

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar