Mengharukan! Keluarga Terpisah Lintas Benua Bersatu Kembali

Mengharukan! Keluarga Terpisah Lintas Benua Bersatu Kembali

suaramedia.id – Sebuah kisah menyentuh tentang penemuan kembali akar keluarga menjadi sorotan, mengingatkan kita akan esensi kemanusiaan yang mendalam. Harryanto Aryodiguno, seorang Associate Professor Hubungan Internasional dari President University, membagikan refleksi mendalam mengenai fenomena ini, yang berawal dari cerita seorang teman yang akhirnya bertemu kembali dengan kerabat yang tak pernah dikenal.

Aryodiguno, yang sebelumnya menulis tentang film ‘Dear You’ dan perdebatan politiknya, kali ini mengalihkan fokus dari arena politik ke ranah yang jauh lebih fundamental: keluarga, kasih sayang, dan keinginan universal manusia untuk memahami asal-usulnya. Kisah kakek temannya, seorang perantau dari Tiongkok ke Indonesia, menjadi gambaran nyata bagaimana sejarah dapat memisahkan ikatan darah, namun tak mampu menghapus jejak ingatan.

Mengharukan! Keluarga Terpisah Lintas Benua Bersatu Kembali
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Ketika Sejarah Memisahkan, Ingatan Tetap Bertahan

Pada masa lampau, konsep ‘merantau’ jauh berbeda dengan era digital saat ini. Tanpa WhatsApp, WeChat, panggilan video, atau media sosial, perpindahan antarnegara seringkali berarti putusnya kontak secara total. Bencana besar, peperangan, perubahan politik, atau sekadar perubahan alamat dapat memutuskan hubungan keluarga selama puluhan tahun, bahkan melintasi generasi. Sang kakek yang merantau ke Indonesia, misalnya, kehilangan jejak keluarganya di Tiongkok. Generasi berganti, orang-orang yang saling mengenal meninggal dunia, sementara generasi berikutnya lahir tanpa pernah bertemu.

Namun, satu hal yang ternyata tidak ikut hilang adalah ingatan kolektif akan keberadaan keluarga di tempat yang jauh. Memori ini menjadi benang merah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mendorong pencarian yang tak kenal lelah.

Dukungan yang Melampaui Materi

Lebih dari sekadar materi, dukungan antaranggota keluarga diaspora ini terbukti melampaui batas geografis dan finansial. Harryanto Aryodiguno menyoroti bagaimana sejak zaman leluhur, mereka telah saling membantu. Uang yang dikirim perantau yang hidup pas-pasan ke kampung halaman bukan hanya nominal, melainkan sebuah pesan kuat: "Saya berada jauh di seberang lautan, tetapi saya belum melupakan kalian."

Dukungan keluarga, menurut Aryodiguno, tidak pernah hanya berbentuk materi. Ia bisa berupa semangat, perhatian, surat, doa, kesempatan pendidikan, bantuan ketika menghadapi kesulitan, atau sekadar keyakinan bahwa di suatu tempat masih ada seseorang yang memikirkan kita. Konsep ‘transnational family’ – keluarga yang secara geografis hidup terpisah di negara berbeda namun tetap mempertahankan hubungan sosial dan emosional – telah dijalani leluhur kita jauh sebelum para akademisi memberinya nama.

Paradoks Era Digital: Mendekatkan atau Menjauhkan?

Di sinilah muncul sebuah paradoks menarik. Di era teknologi yang seharusnya mendekatkan, dengan segala kemudahan komunikasi yang ada, mengapa manusia justru bisa semakin menjauh? Aryodiguno mengajak kita merenung, bahwa meskipun alat komunikasi modern memudahkan, menjaga ikatan tetap membutuhkan usaha, niat, dan penghargaan terhadap sejarah serta akar kita. Penemuan kembali kerabat, seperti yang dialami teman Aryodiguno, adalah bukti nyata bahwa pencarian identitas dan koneksi kemanusiaan adalah perjalanan abadi yang tak lekang oleh waktu, sebuah pencarian akar yang pada akhirnya menemukan kembali esensi kemanusiaan itu sendiri.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar