MBG: Lebih dari Sekadar Makan, Ini Mesin Ekonomi NTT!

MBG: Lebih dari Sekadar Makan, Ini Mesin Ekonomi NTT!

suaramedia.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah menjadi sorotan publik, mungkin selama ini telah disalahpahami. Demikian pandangan Guru Besar Ekonomi Pertanian/Pemasaran Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (UNDANA), Roy Nendissa. Menurutnya, fokus perdebatan yang hanya berkutat pada isu-isu permukaan seperti makanan basi atau keterlambatan distribusi, telah mengaburkan potensi sesungguhnya dari program ini. Nendissa menegaskan, MBG bukan sekadar program sosial, melainkan sebuah "mesin ekonomi raksasa" yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, terutama bagi daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).

Nendissa mengungkapkan kegelisahannya sebagai akademisi. Ia menilai, masyarakat dan pembuat kebijakan terlalu sibuk memperdebatkan masalah di permukaan, tetapi belum cukup serius menangkap peluang besar di baliknya. Alih-alih menambah kritik, tulisan ini dimaksudkan untuk menggeser cara pandang: bahwa program ini harus dibaca sebagai instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi daerah, khususnya di NTT.

MBG: Lebih dari Sekadar Makan, Ini Mesin Ekonomi NTT!
Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

MBG sebagai Pasar yang Pasti dan Menguntungkan

Selama ini, perdebatan lebih banyak berkutat pada biaya per porsi, tanpa menghitung siapa yang menikmati perputaran uang dari program ini. Padahal, setiap program makan sekolah menciptakan permintaan besar untuk berbagai komoditas seperti beras, sayur, telur, ayam, ikan, buah, bumbu, hingga jasa memasak, distribusi, pengemasan, dan tenaga kerja. Artinya, negara sedang membangun sebuah pasar institusional yang sangat kuat. Pengadaan pangan publik semacam ini, jika dirancang dengan tepat, dapat menjadi instrumen ampuh untuk memperkuat rantai nilai lokal dan membuka pasar bagi produsen skala kecil, sebagaimana disoroti dalam berbagai studi (Leao et al., 2023; Xie et al., 2022).

Bagi NTT, hal ini memiliki arti yang jauh lebih strategis. Nendissa menyoroti salah satu persoalan mendasar ekonomi daerah adalah lemahnya keterhubungan antara produksi masyarakat dengan pasar yang pasti. "Petani menanam, tetapi tidak tahu ke mana menjual. Peternak berproduksi, tetapi tidak memiliki kontrak pembelian yang jelas. Koperasi ada, tetapi sering tidak punya fungsi ekonomi yang kuat," papar Nendissa, menggambarkan kondisi riil di NTT. Dalam konteks ini, MBG sesungguhnya menawarkan sesuatu yang sangat mahal nilainya bagi NTT: kepastian permintaan.

Mengapa Ini Sangat Penting untuk NTT

Di sinilah letak kekeliruan cara pandang kita. MBG terlalu sering dibaca sebagai beban anggaran, bukan sebagai peluang ekonomi. Seolah-olah tugas pemerintah selesai ketika makanan sampai ke tangan siswa. Padahal, di balik makanan itu terdapat rantai ekonomi yang panjang. Ada petani yang bisa menanam lebih pasti, peternak yang bisa berproduksi lebih berani, koperasi yang bisa hidup, UMKM yang bisa berkembang, dan jasa logistik yang bisa tumbuh. Yang terpenting, ada uang negara yang seharusnya bisa berputar di NTT, bukan keluar tanpa jejak.

Dalam konteks NTT, cara pandang terhadap MBG tidak boleh sama dengan daerah yang sudah memiliki infrastruktur pasar yang lebih matang. NTT adalah wilayah yang masih menghadapi tantangan serius dalam kemiskinan, pengangguran, produktivitas pertanian, distribusi pangan, dan keterhubungan antarwilayah. Oleh karena itu, program sebesar MBG seharusnya tidak diperlakukan sekadar sebagai program konsumsi, tetapi harus dijadikan alat intervensi ekonomi yang sengaja diarahkan untuk memperkuat masyarakat lokal. Jika kebutuhan MBG di NTT dipenuhi dari luar daerah, maka yang terjadi adalah kebocoran manfaat ekonomi yang signifikan, menghambat potensi pertumbuhan ekonomi lokal.

Bayu Nata
Author: Bayu Nata

jurnalis di Suara Media yang fokus pada isu-isu sosial-politik dan tata kelola pemerintahan daerah. Tulisannya sering menyoroti kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan perkembangan dinamika politik di tingkat regional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar