Filosofi Perkutut: Membaca Watak Kekuasaan!

Filosofi Perkutut: Membaca Watak Kekuasaan!

suaramedia.id – Tradisi Jawa menyimpan cara unik dalam memahami kehidupan, salah satunya melalui hobi memelihara burung perkutut. Bagi masyarakat Jawa, perkutut bukan sekadar penghias halaman, melainkan simbol filosofi yang mendalam. Melalui konsep katuranggan, seseorang dapat membaca karakter burung melalui ciri fisik, suara, hingga perilakunya. Menariknya, metafora dari sangkar kecil ini dapat kita gunakan untuk membedah dinamika besar dalam sebuah negara, khususnya dalam membaca watak kekuasaan.

Memasuki era pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang dimulai sejak Oktober 2024, pembacaan terhadap "karakter" negara menjadi sangat relevan. Menilai sebuah pemerintahan tidak cukup hanya dengan melihat angka pertumbuhan ekonomi atau proyek strategis yang megah. Sebagaimana menilai perkutut katuranggan melalui ciri mathi-nya, pemerintahan pun harus dibaca melalui kualitas kebijakan dan arah kemana kekuasaan itu dibawa.

Filosofi Perkutut: Membaca Watak Kekuasaan!
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Dalam dunia politik, sering kali kita terjebak pada simbol-simbol besar seperti pidato yang menggelegar atau kemegahan seremoni kenegaraan. Namun, esensi kepemimpinan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan mendengarkan kritik, menjaga keadilan, dan memastikan kebijakan tidak hanya menguntungkan segelintir kelompok. Kewibawaan seorang pemimpin tidak hanya lahir dari ketegasan, tetapi dari kemampuannya merawat kehidupan rakyatnya.

Suara Merdu atau Sekadar Kebisingan?

Salah satu daya tarik utama perkutut adalah suara anggungannya yang merdu, yang sering dianggap sebagai simbol ketenteraman. Jika ditarik ke ranah komunikasi politik, pemerintah Prabowo-Gibran dituntut untuk mampu menghadirkan "suara" yang menenangkan di tengah ketidakpastian ekonomi dan kecemasan sosial.

Program-program besar seperti Makan Bergizi Gratis dan penguatan ketahanan pangan adalah bentuk ambisi pemerintah untuk menjawab kebutuhan rakyat. Namun, suara yang merdu dalam politik hanya akan bermakna jika dibarengi dengan realitas yang sehat. Janji-janji manis pemerintah baru akan mendapatkan legitimasi kuat apabila masyarakat benar-benar merasakan perubahan nyata pada daya beli, ketersediaan lapangan kerja, dan stabilitas harga kebutuhan pokok.

Waspada Jebakan ‘Sangkar Emas’

Dalam hobi perkutut, sangkar yang indah bisa menjadi pelindung, namun di sisi lain juga membatasi ruang gerak. Fenomena ini serupa dengan dinamika ekonomi-politik di Indonesia. Di satu sisi, stabilitas politik dan kepastian hukum sangat dibutuhkan untuk menarik investasi dan menjalankan pembangunan infrastruktur.

Namun, ada risiko besar jika stabilitas tersebut hanya menjadi "sangkar emas". Kondisi di mana ekonomi terlihat tumbuh secara makro, namun rakyat kecil justru merasa terhimpit oleh biaya hidup dan sulitnya akses pekerjaan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya menjadi angka di atas kertas yang dinikmati oleh para pemilik modal besar, sementara petani, pedagang kecil, dan generasi muda berjuang di tengah ketidakpastian.

Pada akhirnya, sebagaimana seorang penghobi perkutut yang teliti melihat detail fisik burungnya, rakyat dan pengamat politik perlu jeli melihat detail kebijakan negara. Apakah kekuasaan ini akan membawa kesejahteraan yang merata, atau hanya sekadar menciptakan kemegahan semu di dalam sangkar emas?

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar