suaramedia.id – Langkah Indonesia menjadi anggota penuh blok ekonomi BRICS ternyata memicu tanda tanya besar di kalangan negara-negara Barat. Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, mengungkapkan bahwa banyak pihak dari Barat secara langsung mempertanyakan alasan di balik keputusan strategis Jakarta tersebut. Pernyataan ini disampaikan Utut dalam sebuah Seminar Nasional bertajuk ‘Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini’, yang diselenggarakan di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 18 April 2026.

Related Post
Dalam forum tersebut, Utut Adianto mengawali pernyataannya dengan menyetujui pandangan Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, yang sebelumnya menyoroti adanya ‘kegamangan’ pemerintah Indonesia dalam menentukan posisi di tengah dinamika geopolitik global. "Yang perlu saya jelaskan adalah situasi kita saat ini. Tadi disampaikan oleh Pak Sekjen, kita gamang terhadap situasi ini. Berpihak ke manakah kita?" tanya Utut, menegaskan dilema yang dihadapi bangsa.

Ia kemudian menyoroti kronologi keputusan pemerintah. Indonesia secara terang-terangan menyampaikan keinginan untuk bergabung dengan BRICS tak lama setelah pelantikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024. Hanya berselang beberapa bulan, tepatnya pada Januari 2025, Indonesia bersama negara-negara baru lainnya seperti Uni Emirat Arab (UEA), secara resmi diterima sebagai anggota penuh blok ekonomi yang digagas Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan tersebut.
Namun, langkah strategis ini ternyata tidak luput dari perhatian, bahkan kritik, dari negara-negara Barat. "Kemudian dalam perjalanannya, hampir semua negara Barat menanyakan kenapa kita bergabung ke BRICS," ungkap Utut. Ia menambahkan kekhawatirannya akan implikasi jangka panjang dari pilihan ini. "Biasanya, kalau kita sudah condong ke satu kutub, dalam hal ini Rusia dan China, kita tidak akan diterima oleh Amerika Serikat," jelasnya, mengisyaratkan potensi ketegangan hubungan diplomatik dengan kekuatan Barat.
Pernyataan Utut Adianto ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif di tengah polarisasi kekuatan global. Keputusan bergabung dengan BRICS, di satu sisi membuka peluang ekonomi baru, namun di sisi lain menuntut kehati-hatian dalam menyeimbangkan hubungan dengan mitra tradisional di Barat.









Tinggalkan komentar