Pakar Hukum Bongkar Makna Tersembunyi ‘Mudik ke Jakarta’!
suaramedia.id – Frasa "Mudik ke Jakarta" yang belakangan ini kerap diucapkan oleh sejumlah pejabat publik menuai kritik tajam. Ramdansyah, seorang praktisi hukum sekaligus alumni STF Driyarkara, menegaskan bahwa ada kekeliruan mendasar di balik ungkapan tersebut, baik secara konseptual maupun politis. Menurutnya, dalam ranah politik, bahasa tidak pernah netral; ia merupakan cerminan sekaligus alat untuk membentuk realitas sosial.

Related Post

Ramdansyah menjelaskan, "Mudik ke Jakarta" bukan sekadar kekeliruan semantik biasa. Lebih dari itu, ia mengindikasikan adanya imajinasi pembangunan yang secara ekstrem menempatkan ibu kota sebagai pusat segala orientasi hidup. Dalam kerangka pemikiran ini, Jakarta tidak lagi hanya dipandang sebagai pusat administrasi atau ekonomi, melainkan sebagai tujuan eksistensial, tempat di mana kehidupan dianggap mencapai makna dan keberhasilan sejati. Ini, katanya, adalah redefinisi fundamental tentang apa arti "pulang".
Pembalikan Makna "Pulang" yang Radikal
Dalam pengalaman sosial masyarakat Indonesia, tradisi mudik selalu berarti kembali ke asal: ke desa, ke keluarga, ke akar budaya yang membentuk identitas. Mudik bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan sebuah tindakan moral, sebuah upaya rekoneksi dengan asal-usul dan nilai-nilai luhur.
Namun, ketika seorang pejabat publik mengimajinasikan "Mudik ke Jakarta," terjadi pembalikan makna yang radikal. Konsep "pulang" tidak lagi mengarah pada kampung halaman atau akar identitas, melainkan justru menuju pusat kekuasaan ekonomi. Kampung halaman, dalam narasi ini, bergeser dari titik referensi identitas menjadi sekadar titik awal yang harus ditinggalkan demi mencapai "keberhasilan" di kota besar.
Kritik Ramdansyah ini menyoroti bagaimana bahasa yang diucapkan oleh pejabat publik secara tidak langsung mencerminkan warisan panjang pembangunan yang cenderung terpusat. Di mana kota-kota besar dijadikan magnet utama, sementara wilayah pedesaan seringkali diposisikan sebagai penyokong pasif yang hanya melayani kebutuhan perkotaan.
Oleh karena itu, frasa "Mudik ke Jakarta" bukan hanya sekadar permainan kata. Ia adalah indikator penting dari cara negara membayangkan dan membentuk realitas sosialnya. Ini menjadi panggilan untuk merefleksikan kembali arah pembangunan nasional dan bagaimana kita mendefinisikan makna "pulang" dalam konteks identitas, keseimbangan regional, dan keberlanjutan.









Tinggalkan komentar