suaramedia.id – Keluarga korban ledakan amunisi tak layak pakai di Garut membantah keras pernyataan TNI yang menyebut warga sipil berada di lokasi karena memulung. Dalam sebuah video yang diunggah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, keluarga korban meluruskan fakta tersebut. Endang, salah satu korban selamat yang juga saudara korban meninggal, menjelaskan bahwa dirinya dan adiknya bekerja sebagai buruh pembuka amunisi untuk TNI.

Related Post
"Saya dan adik saya kerja di sana sebagai buruh, membuka amunisi," ungkap Endang kepada Dedi Mulyadi. Pekerjaan ini, menurutnya, sudah dijalani selama lebih dari 10 tahun dengan upah Rp150.000 per hari. Endang mengaku belajar membuka amunisi secara otodidak dan selama ini tak pernah terjadi kecelakaan. Ia menjelaskan kronologi kejadian, mengatakan saat ledakan terjadi, mereka tengah mempersiapkan pemusnahan detonator dengan merendamnya di air laut agar cepat berkarat. Namun, ia menduga ada penambahan pupuk dalam proses perendaman tersebut yang mungkin menjadi penyebab ledakan.

Anak dari salah satu korban yang meninggal pun turut memberikan kesaksian yang emosional. Dengan berlinang air mata, ia membantah keras tudingan bahwa ayahnya adalah pemulung. "Bapak saya bukan pemulung! Bapak saya bekerja sama dengan tentara, saya tahu sejak saya masih sekolah. Beliau sudah bekerja di banyak tempat, Manado, Makassar, Bali. Tuduhan bahwa bapak saya nyelonong dan melawan TNI itu tidak benar!" tegasnya.
Pernyataan ini bertolak belakang dengan keterangan Kapuspen TNI, Kristomei Sianturi, yang sebelumnya kepada suaramedia.id menyatakan bahwa sembilan dari 13 korban meninggal dunia adalah warga sipil yang diduga memulung sisa-sisa logam dari amunisi yang telah diledakkan. Kristomei menyebut lokasi kejadian berada di lahan milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Garut, yang biasa digunakan TNI untuk memusnahkan amunisi. Gubernur Dedi Mulyadi sendiri dalam video tersebut menegaskan bahwa peristiwa ini lebih tepat dikategorikan sebagai kecelakaan kerja.










Tinggalkan komentar