suaramedia.id – Warga Negeri Sepa, Maluku Tengah, Maluku, menggelar tradisi unik Hadrat pada Jumat (6/7). Berbalut jas dan kopiah hitam, mereka memadati jalanan Negeri Sepa dalam pawai pengantaran hewan kurban. Tradisi tahunan yang jatuh setiap 10 Zulhijah ini menyuguhkan pemandangan menarik.

Related Post
Setelah berkumpul di Masjid Al-falah, masjid tertua di Maluku pukul 14.00 WIT, warga beriringan mengantar hewan kurban keliling kampung. Sembari menggoyangkan lenso dan melantunkan zikir serta lagu-lagu perjuangan Nabi Muhammad SAW, mereka mengenang tragedi Perang Karbala. Peristiwa bersejarah yang melibatkan cucu Nabi Muhammad, Husain, dan pasukan Yazid ini menjadi latar belakang unik tradisi Hadrat di Negeri Sepa.

Berbeda dengan daerah lain di Maluku yang umumnya menggunakan lagu berjanji, Negeri Sepa menyanyikan lagu-lagu perjuangan yang berkaitan dengan tragedi Karbala. Bagi umat Islam, para pejuang yang gugur dalam pertempuran tersebut dianggap sebagai martir, dan Husain dijuluki Sayyid Al-Syuhada.
Syaid Ahmad Bin Syeh Abu Bakar, salah satu pengisi acara, menjelaskan makna mendalam tradisi ini. Menurutnya, Hadrat di Negeri Sepa merupakan wujud penghormatan terhadap para syuhada dan penguatan tali silaturahmi antar warga.
Adam Sopalatu, peserta Hadrat, mengungkapkan antusiasmenya terhadap tradisi turun temurun ini. Ia menekankan pentingnya menjaga kelangsungan tradisi yang hanya digelar sekali setahun tersebut. Partisipasi dalam Hadrat membutuhkan stamina prima, karena peserta harus berkeliling kampung sambil bernyanyi dan bergoyang. Persiapan pun matang, mulai dari jas hitam, kopiah hitam, hingga kacamata hitam, semuanya serba hitam sebagai ciri khas tradisi ini.
Adam berharap Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dapat menjadikan Hadrat sebagai agenda tahunan, mengingat tradisi ini tak hanya unik, tetapi juga mempererat persatuan dan kerukunan warga Negeri Sepa.










Tinggalkan komentar