suaramedia.id – Di tengah riuhnya konflik global yang tak henti, sebuah pertanyaan krusial muncul: apakah realitas yang kita saksikan di layar gawai masih murni fakta, ataukah sudah terkurasi oleh kekuatan tak terlihat bernama algoritma? Menurut pandangan Tutik Lestari, seorang Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Darunnajah, teknologi kini jauh dari netral. Ia bukan lagi sekadar alat, melainkan entitas yang aktif membentuk narasi, memilih apa yang layak dilihat, dan pada akhirnya, mendistorsi persepsi publik, khususnya di dunia Islam.

Related Post
Fenomena ini sangat kontras dengan prinsip yang dipegang teguh para sahabat Nabi, sebagaimana diungkapkan oleh Umar bin Khattab: "Kebenaran itu tidak diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari kejelasan bukti." Namun, di era digital saat ini, kebenaran sering kali kalah bersaing dengan popularitas. Eskalasi isu di berbagai belahan dunia Islam, mulai dari krisis kemanusiaan hingga ketegangan geopolitik, kini tidak lagi hanya disaksikan, melainkan dikonsumsi melalui lensa algoritma yang bias. Apa yang muncul di linimasa kita bukanlah representasi utuh dari kejadian, melainkan hasil penyaringan mesin yang dirancang untuk satu tujuan: mempertahankan perhatian pengguna.

Medan Perang Digital di Tengah Bisingnya Informasi
Dalam sepekan terakhir, pola yang jelas terlihat adalah bagaimana setiap konflik di lapangan selalu diikuti oleh "perang narasi" yang sengit di ranah digital. Platform media sosial raksasa seperti X (Twitter), TikTok, dan Instagram menjadi arena utama, dibanjiri oleh potongan video, opini, dan klaim yang seringkali sulit diverifikasi kebenarannya.
Data global menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat dunia, bahkan lebih dari 60%, kini mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi utama mereka. Angka ini bahkan melonjak di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan. Ini berarti, persepsi global terhadap isu-isu dunia Islam kini lebih banyak dibentuk oleh konten buatan pengguna dan algoritma, bukan lagi media konvensional.
Masalah utamanya, algoritma tidak dirancang untuk mencari kebenaran, melainkan untuk memaksimalkan ‘engagement’ atau keterlibatan. Konten yang memicu emosi kuat—baik itu kemarahan, kesedihan, atau simpati ekstrem—cenderung lebih cepat menyebar dan mendominasi linimasa. Akibatnya, realitas yang sampai ke publik seringkali terdistorsi dan jauh dari objektif.
AI, Media Sosial, dan Geopolitik Digital: Siapa Dalang di Balik Layar?
1. Algoritma sebagai ‘Editor Tak Terlihat’
Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menjadi tulang punggung platform digital beroperasi berdasarkan prediksi: konten mana yang paling efektif membuat pengguna berlama-lama. Dalam konteks konflik di dunia Islam, ini berarti materi yang dramatis, provokatif, atau bahkan manipulatif memiliki peluang lebih besar untuk menjadi viral. Tutik Lestari menyoroti, seringkali video lama dari konflik yang berbeda bisa kembali beredar dengan narasi baru yang menyesatkan. AI tidak memiliki kemampuan untuk memverifikasi konteks; tugasnya hanya mengoptimalkan penyebaran. Ini berujung pada reaksi publik global terhadap "realitas yang sudah direkayasa."
2. Disinformasi sebagai Senjata Baru yang Mematikan
Disinformasi bukanlah fenomena baru, namun kehadiran AI generatif telah mempercepat dan memperluas skalanya secara drastis. Teknologi seperti deepfake, voice cloning, dan manipulasi visual kini dapat diproduksi dengan biaya minimal dan kecepatan luar biasa, mempersulit upaya membedakan fakta dari fiksi. Ini menjadikan medan perang narasi digital semakin kompleks dan berbahaya bagi dunia Islam, di mana kebenaran harus berjuang keras melawan gelombang informasi yang sengaja disesatkan.










Tinggalkan komentar