suaramedia.id – Masyarakat Baduy mendesak pemerintah segera mengesahkan Undang-Undang Masyarakat Hukum Adat. Hal ini disampaikan Jaro Oom, Jaro Pamarentahan Baduy, dalam acara Seba Baduy di Serang, Sabtu (3/5). Menurutnya, UU ini krusial untuk melindungi masyarakat Baduy dan kelestarian Bumi Kanekes yang mereka huni. Keberadaan UU tersebut dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir agar wilayah tersebut tetap lestari dan terhindar dari kerusakan.

Related Post
Jaro Oom menekankan pentingnya perlindungan terhadap alam di wilayah Banten, khususnya di Ujung Kulon yang merupakan jantung hutan dan habitat badak bercula satu. Ia juga menyebut beberapa kawasan lain yang perlu dilindungi, seperti Pulomanuk, Gunung Honje, dan Gunung Pulosari. "Kami ingin diakui, dilindungi, dan RUU desa adat, perda adat, baik tingkat Lebak, provinsi, maupun nasional segera disahkan," tegas Jaro Oom. Ia menambahkan, percepatan pengesahan UU tersebut menjadi harapan besar bagi masyarakat Baduy.

Selain itu, masyarakat Kanekes juga berharap adanya fasilitas kesehatan, khususnya ketersediaan obat penawar gigitan ular di sekitar desa mereka. "Kami ingin difasilitasi kesehatannya, terutama masalah gigitan ular," ungkap Jaro Oom.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Banten, Andra Soni, yang akrab disapa Bapak Gede oleh masyarakat Baduy, berjanji akan berupaya melestarikan alam di wilayahnya. Ia menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk menyediakan obat anti-bisa ular di puskesmas terdekat dengan desa adat Baduy. "Obat anti-bisa ular akan disediakan di sekitar desa dan puskesmas terdekat," ujar Soni.
Seba Baduy 2025, yang merupakan Seba Gede, dihadiri 1.769 masyarakat Kanekes. Sebanyak 69 orang dari Baduy Dalam, dengan pakaian serba putih, berjalan kaki dari Leuwidamar, Kabupaten Lebak, menuju Pendopo Lama Gubernur Banten. Dalam upacara tersebut, masyarakat Baduy menyerahkan laksa, simbol utuhnya keluarga Baduy, kepada Gubernur. Laksa merupakan intisari padi hasil panen yang dikumpulkan dan dikeringkan.
Gubernur Soni melihat Seba Baduy bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. "Mereka datang membawa pesan tentang alam, harmoni dengan alam, dan pesan tentang bagaimana kita bisa terus menjadi saudara, menjaga persatuan dan kesatuan," kata politikus Gerindra tersebut.










Tinggalkan komentar