Anak Kembali Sekolah, Superflu Mengintai! RSHS Ungkap Fakta Mengejutkan!

Anak Kembali Sekolah, Superflu Mengintai! RSHS Ungkap Fakta Mengejutkan!

suaramedia.id – Bandung, Jawa Barat – Gelombang kekhawatiran menyelimuti orang tua dan institusi pendidikan seiring kembalinya anak-anak ke bangku sekolah setelah libur panjang. Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengumumkan temuan 10 kasus influenza A, atau yang populer disebut superflu, yang telah menjalani perawatan hingga awal Januari 2026. Angka ini menjadi sorotan serius mengingat dua di antaranya adalah pasien anak-anak, masing-masing berusia 9 bulan dan 11 tahun, bertepatan dengan lonjakan mobilitas masyarakat pasca-libur panjang dan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar.

Menurut dr. Yovita Hartantri, Ketua Tim Pinere RSHS Bandung, tren peningkatan kasus influenza A sebenarnya telah teramati sejak Agustus tahun sebelumnya, mencapai puncaknya pada Oktober 2025, sebelum menunjukkan penurunan pada bulan November. Dari total 10 kasus yang tercatat di awal tahun ini, selain dua anak-anak, mayoritas pasien lainnya berada dalam rentang usia produktif 20 hingga 60 tahun. Yovita juga mengungkapkan bahwa dua pasien di antaranya berada dalam kondisi berat, memerlukan perawatan intensif dengan bantuan oksigen, umumnya karena memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Anak Kembali Sekolah, Superflu Mengintai! RSHS Ungkap Fakta Mengejutkan!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Jangan Panik, Tapi Tetap Waspada!

Meskipun demikian, Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, dr. Iwan Abdul Rachman, mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Ia menegaskan bahwa influenza merupakan penyakit musiman dan berbeda karakteristiknya dengan kondisi pandemi seperti Covid-19. "Penularan influenza terjadi melalui droplet," jelas dr. Iwan. Oleh karena itu, langkah pencegahan utama meliputi penggunaan masker saat merasa sakit, menjaga kebersihan tangan, dan menghindari kontak erat untuk mencegah penularan kepada orang lain.

Senada dengan itu, dr. Ferdy Ferdian, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSHS, secara khusus menyoroti peran orang tua dan pihak sekolah dalam memantau kesehatan anak. "Anak-anak bisa menjadi pembawa dan penular influenza saat mobilitas mereka meningkat," ujarnya. Ia menyarankan pembiasaan cuci tangan yang benar, penggunaan masker jika batuk atau pilek, serta tidak memaksakan anak masuk sekolah saat kondisi kesehatannya menurun. RSHS menekankan pentingnya anak beristirahat di rumah dan mendapatkan pengobatan jika mengalami demam, batuk, atau sesak napas, demi mencegah penyebaran di lingkungan sekolah.

Kemenkes: Superflu Bukan Ancaman Pandemi Mematikan

Dari sisi pemerintah pusat, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, sehari sebelumnya, memberikan penegasan yang menenangkan. Ia menyatakan bahwa superflu atau Influenza A H3N2 subclade K sejauh ini bukan merupakan ancaman pandemi mematikan layaknya Covid-19 pada tahun 2020. "Ini bukan virus baru seperti Covid. Penularannya memang cepat, tetapi tingkat kematiannya sangat rendah," terang Budi. Ia menambahkan bahwa fenomena ini lumrah terjadi di musim dingin negara-negara maju, dan di Indonesia sendiri, puluhan kasus yang teridentifikasi umumnya tidak parah dan dapat sembuh dengan pengobatan biasa.

Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, turut menjelaskan hasil analisis dari 800 sampel positif influenza dari berbagai daerah, di mana 40% di antaranya mencakup Influenza A H1N1 pdm09, H3N2 subclade K (62 kasus), dan Influenza B. Aji memastikan bahwa ke-62 pasien yang terdeteksi superflu ini telah kembali normal dan sehat sepenuhnya, tanpa ada yang mengalami sakit berat atau meninggal. Gejala yang muncul mirip dengan flu biasa, seperti demam 38-39°C, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, serta sesak napas ringan.

Kemenkes terus memperkuat sistem pemantauan harian melalui Sentinel ILI/SARI di 88 puskesmas, laboratorium daerah, rumah sakit, serta Balai Karantina dengan memanfaatkan thermal scanner di pintu-pintu masuk negara. Aji Muhawarman menegaskan bahwa kebijakan akan disesuaikan dengan situasi epidemiologis terkini di Indonesia, tanpa harus serta-merta mengadopsi langkah drastis seperti sekolah daring atau bekerja dari rumah secara massal yang diterapkan di beberapa negara lain. Berdasarkan data Kemenkes RI hingga akhir Desember 2025, total 62 kasus superflu terdeteksi di delapan provinsi, dengan Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat menjadi wilayah dengan temuan terbanyak.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada namun tidak perlu panik berlebihan. Menjaga imunitas tubuh melalui pola hidup bersih dan sehat, seperti asupan gizi seimbang, tidur cukup, dan olahraga teratur, menjadi benteng pertahanan utama. Selain itu, praktik kebersihan dasar seperti memakai masker saat batuk atau pilek dan rajin mencuci tangan tetap menjadi langkah pencegahan efektif guna menekan risiko penularan superflu, khususnya di lingkungan keluarga dan sekolah.

Bayu Nata
Author: Bayu Nata

jurnalis di Suara Media yang fokus pada isu-isu sosial-politik dan tata kelola pemerintahan daerah. Tulisannya sering menyoroti kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan perkembangan dinamika politik di tingkat regional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar