suaramedia.id – Komika kenamaan Sammy Notaslimboy turut menyuarakan pandangannya terkait polemik yang membelit Pandji Pragiwaksono. Kontroversi seputar materi stand-up comedy "Mens Rea" yang berujung pelaporan ke pihak berwajib ini, menurut Sammy, telah memunculkan tuntutan yang keliru: kewajiban seorang komika untuk menyertakan solusi konkret saat melontarkan kritik di atas panggung.

Related Post
Dalam sebuah sesi di program "Rakyat Bersuara" iNews, Sammy menegaskan bahwa seniman, termasuk komika, memiliki ranah kerja di area dekonstruksi. "Saya cukup tergelitik dengan perdebatan kritik dan solusi ini. Seharusnya, seorang seniman seperti Pandji memang bekerja di area dekonstruksi," ujar Sammy, menjelaskan esensi peran mereka.

Ia melanjutkan, peran dekonstruksi tersebut adalah "membongkar" atau "membelanjakan" berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. "Ini lho masalah Indonesia, ini lho masalah kepolisian, ini lho masalah wakil presiden kita, ini lho masalah penggunaan pajak kita," tegasnya, merujuk pada isu-isu krusial yang kerap menjadi sasaran kritik para komika.
Oleh karena itu, Sammy menilai tuntutan agar komika langsung menyajikan solusi konkret di tengah pertunjukan adalah hal yang tidak tepat. "Jika kemudian dituntut untuk memberikan solusi, itu bukan ranah di panggung. Solusi itu seyogianya disampaikan setelah seorang komika turun dari panggung," jelasnya, membedakan antara fungsi kritik dan fungsi penyelesaian masalah.
Pandangan berbeda sebelumnya disampaikan oleh Direktur Eksekutif LBH Jokowi Perkasa, Firdaus Oiwobo. Ia berpendapat bahwa setiap kritik yang dilontarkan di ruang publik, termasuk dalam bentuk stand-up comedy, seharusnya diakhiri dengan penyampaian solusi. Pernyataan Firdaus ini juga disampaikan dalam kesempatan yang sama di program "Rakyat Bersuara".
Perbedaan pandangan ini menyoroti perdebatan panjang mengenai batasan dan tanggung jawab seniman dalam menyampaikan kritik sosial. Sammy Notaslimboy, melalui pernyataannya, ingin menegaskan bahwa esensi seni dekonstruktif adalah membuka mata publik terhadap masalah, bukan serta-merta menyediakan jawaban instan di atas panggung.










Tinggalkan komentar