suaramedia.id – Di ranah digital yang kian mendominasi ruang publik, agama kini sering muncul bukan sebagai sumber ketenangan, melainkan sebagai trending topic yang memicu perdebatan. Potongan ceramah singkat berseliweran di media sosial, simbol-simbol religius dipamerkan demi impresi, dan tafsir keagamaan kerap berubah menjadi pertikaian verbal yang bising. Fenomena ini, menurut pandangan seorang dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang fokus pada integrasi nilai-nilai keislaman kontemporer, menunjukkan bagaimana agama yang sejatinya wadah perenungan dan adab, kini justru kerap direproduksi dalam format konten instan yang mengejar viralitas.

Related Post
Kondisi ini menjadi konteks penting saat bangsa ini memperingati Hari Lahir Kementerian Agama setiap 3 Januari. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan komodifikasi iman, momen ini semestinya menjadi ajang refleksi mendalam: ketika agama begitu ramai dibicarakan, apakah esensi dan maknanya masih terjaga dengan sungguh-sungguh?

Gagasan utama yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Kementerian Agama hari ini diuji bukan hanya oleh kapasitasnya dalam mengelola administrasi keagamaan, melainkan kemampuannya menjaga kedalaman makna agama di tengah budaya sensasi dan popularitas. Ketika agama mudah dijadikan alat legitimasi, komoditas konten, bahkan identitas yang dipertentangkan, negara melalui Kemenag tidak boleh absen dalam menjaga arah moral kehidupan beragama.
Realitas sosial menunjukkan bahwa kita hidup di zaman ketika ukuran kebenaran sering kali bergeser dari kedalaman ilmu ke jumlah pengikut. Ironisnya, otoritas keagamaan kini cenderung diukur dari popularitas di lini masa, bukan lagi dari kedalaman proses keilmuan yang panjang. Algoritma media sosial lebih menyukai konten yang emosional dan kontroversial ketimbang yang meneduhkan. Akibatnya, agama kerap tampil dalam wajah yang keras, dangkal, dan terfragmentasi.
Situasi ini tidak lahir tanpa sebab. Rendahnya literasi keagamaan membuat masyarakat mudah menerima potongan ajaran tanpa konteks yang memadai. Di saat yang sama, logika pasar digital mendorong agama dikemas layaknya produk hiburan agar laku dikonsumsi. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi melahirkan dampak serius: polarisasi umat yang semakin tajam, lunturnya etika beragama, serta hilangnya kepercayaan publik terhadap agama sebagai sumber kebijaksanaan dan kedamaian.
Padahal, dalam ajaran agama itu sendiri, nilai keilmuan, hikmah, dan adab menempati posisi yang sangat utama. Agama tidak diturunkan untuk dipertontonkan, apalagi dipertentangkan, melainkan untuk membimbing manusia menuju kematangan akhlak dan kejernihan nurani. Prinsip rahmatan lil ‘alamin menegaskan bahwa agama seharusnya menghadirkan kemaslahatan sosial, bukan kegaduhan yang memecah belah.
Di titik inilah peran strategis Kementerian Agama menemukan relevansinya. Sejak awal berdirinya, kementerian ini tidak dimaksudkan sekadar sebagai pengelola urusan ritual, melainkan sebagai penjaga harmoni kehidupan beragama dan penopang moral kebangsaan. Di era digital, peran tersebut justru semakin menantang. Pendekatan birokratis semata tidak lagi memadai. Diperlukan keberanian untuk hadir sebagai penuntun nilai, penjernih wacana keagamaan, dan penguat moderasi beragama di ruang publik yang semakin cair.
Tantangan ini tentu tidak bisa dipikul oleh Kementerian Agama sendirian. Masyarakat pun perlu diajak untuk lebih dewasa dalam beragama: tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten sensasional, tidak menjadikan agama sebagai alat pembenaran ego pribadi atau kelompok, dan tidak menukar kedalaman iman dengan popularitas sesaat. Agama membutuhkan kesabaran dalam memahami, bukan sekadar kecepatan dalam menyebarkan informasi tanpa filter.
Hari Lahir Kementerian Agama, karena itu, semestinya menjadi ajakan reflektif bagi kita semua. Ketika agama semakin sering menjadi trending topic, pertanyaan yang harus kita ajukan bukanlah siapa yang paling viral, melainkan siapa yang paling bertanggung jawab menjaga maknanya. Sebab, jika agama hanya dirawat di permukaan popularitas, maka yang akan hilang bukan sekadar ketenangan publik, tetapi juga kedalaman iman itu sendiri.










Tinggalkan komentar