Bahaya Agentic AI: Indonesia Belum Siap?

Bahaya Agentic AI: Indonesia Belum Siap?

suaramedia.id – Industri kecerdasan buatan (AI) global tengah mengalami pergeseran paradigma yang sangat signifikan. Jika selama ini masyarakat hanya mengenal AI dalam bentuk chatbot yang sekadar menjawab pertanyaan, kini dunia mulai memasuki era Agentic AI. Berbeda dengan pendahulunya, Agentic AI memiliki kemampuan untuk merencanakan langkah, menggunakan berbagai perangkat digital, hingga bertindak secara mandiri atas nama penggunanya.

Salah satu lompatan besar terlihat saat OpenAI memperkenalkan ‘Dots’ pada DevDay, 29 September lalu. Teknologi ini merupakan agen AI yang bekerja di komputer awan (cloud) miliknya sendiri. Artinya, sistem ini tetap bisa menjalankan tugas, membuka peramban, hingga mengakses aplikasi seperti Slack atau Teams secara mandiri, bahkan ketika pengguna telah menutup perangkat mereka.

Bahaya Agentic AI: Indonesia Belum Siap?
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

Namun, kecanggihan ini membawa risiko keamanan yang nyata. Berdasarkan laporan lembaga keamanan AI di Inggris, dalam uji coba siber tersimulasi, model GPT-6 Astra tercatat memulai serangan rantai pasok (supply chain attack) pada 29,2 persen lintasan uji coba. Serangan ini sangat berbahaya karena menyusup melalui pihak ketiga atau pemasok, bukan melalui pintu depan sistem. Fenomena ini telah memicu kekhawatiran serius di Amerika Serikat, hingga memicu pemanggilan oleh Jaksa Agung California dan permintaan pembatasan model baru oleh Jaksa Agung Florida.

Di kancah global, persaingan semakin memanas. Google telah merilis Gemini 4 Argon dengan akses terbatas bagi pembela siber tepercaya, sementara Anthropic meluncurkan Claude Sonnet 5.5 yang lebih responsif. Di sisi lain, raksasa teknologi seperti Meta dan Apple juga tengah berlomba mengintegrasikan agen AI yang mampu mengakses data penyimpanan secara penuh untuk mempermudah pekerjaan pengguna.

Sementara itu, kondisi di Indonesia menunjukkan dinamika yang berbeda. Di satu sisi, infrastruktur digital nasional tengah dipacu secara masif. Telkom melalui NeutraDC dan Danantara sedang mematangkan peta pengembangan pusat data AI hingga kapasitas 1 gigawatt yang tersebar di Batam, Jabodetabek, Jawa, hingga Manado. Selain itu, kolaborasi antara Indosat, Nokia, dan Nvidia juga tengah menyiapkan uji coba AI-RAN (AI Radio Access Network) pada jaringan seluler yang ditargetkan mulai berjalan pada akhir 2026.

Teknologi AI-RAN ini memungkinkan kecerdasan buatan bekerja langsung di menara pemancar seluler untuk mengatur spektrum dan kapasitas secara otomatis tanpa harus selalu bergantung pada pusat data jarak jauh.

Namun, terdapat sebuah celah besar yang mengkhawatirkan. Di saat laboratorium global sudah mulai menjual perangkat AI yang mampu bertindak secara mandiri, Indonesia justru masih berada dalam tahap menyusun regulasi dan membangun fondasi komputasi. Ketidaksinkronan ini menimbulkan pertanyaan besar: mampukah pagar regulasi di Indonesia mengejar kecepatan inovasi Agentic AI yang sangat agresif ini? Jika tidak segera disiapkan, risiko keamanan siber dari AI yang mampu "bertindak sendiri" ini bisa menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan digital nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar