TERKUAK! Bukan Prabowo, Rocky Gerung Bela Ini di Kabinet!

TERKUAK! Bukan Prabowo, Rocky Gerung Bela Ini di Kabinet!

suaramedia.id – Akademisi dan pengamat politik Rocky Gerung kembali melontarkan pernyataan yang menyita perhatian publik. Ia dengan tegas membantah anggapan bahwa dirinya kini berpihak atau membela Presiden Prabowo Subianto. Menurut Rocky, fokus pembelaannya bukanlah pada sosok individu, melainkan pada pemahaman esensial mengenai konstitusi yang ia nilai belum sepenuhnya dikuasai oleh Kabinet Merah Putih.

Pernyataan tersebut disampaikan Rocky Gerung dalam program "Rakyat Bersuara" yang disiarkan oleh iNews, pada Selasa (22/9/2026). Dalam kesempatan itu, Rocky menjelaskan bahwa kritiknya lebih substansial, menyoroti fondasi hukum negara yang seharusnya menjadi pegangan utama setiap anggota kabinet.

TERKUAK! Bukan Prabowo, Rocky Gerung Bela Ini di Kabinet!
Gambar Istimewa : pict.sindonews.com

"Banyak yang mengira saya membela Prabowo. Padahal, yang saya bela adalah pengertian konstitusi yang belum sempurna dimengerti oleh kabinet," ujar Rocky, menegaskan posisinya. Ia bahkan tidak ragu menambahkan, "Termasuk presidennya? Ya, presidennya pun pasti belum memahaminya secara sempurna."

Lebih jauh, Rocky Gerung secara terbuka menyatakan bahwa dirinya berpihak pada ideologi sosialis. Ia mengkritik keras bahwa baik kabinet yang berkuasa saat ini maupun "kabinet bayangan" yang diinisiasi oleh masyarakat sipil, cenderung menganut ideologi kapitalis. Menurutnya, perbedaan fundamental ini menciptakan ketidakseimbangan dalam diskursus publik dan menghambat perdebatan yang konstruktif.

"Kan enggak fair. Kalau mau debat, debat di situ, itu namanya debat paradigmatik," ucapnya, menyoroti pentingnya adu gagasan yang mendalam berdasarkan landasan pemikiran yang berbeda.

Rocky juga menyentil maraknya penggunaan istilah "fasisme" dalam perbincangan publik. Ia menilai, seringkali istilah tersebut digunakan tanpa pemahaman yang mendalam, seolah-olah rezim fasis hanya berarti pembatasan kebebasan dan pengawasan pemerintah.

"Masak ada fasisme di Indonesia tuh? Itu yang saya maksud cara membuat kalimat itu sebagai olah intelektual supaya nggak jadi dungu. Sekarang semua orang bicara fasisme, fasisme," pungkasnya, menantang publik untuk menggunakan nalar dan pemikiran kritis agar tidak terjebak dalam narasi yang dangkal.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar