suaramedia.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah kembali menjadi sorotan tajam menyusul insiden dugaan keracunan makanan yang masih terjadi di beberapa wilayah. Meskipun Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, dinilai telah menunjukkan keseriusan dalam membenahi pelaksanaan program ini, seorang komunikolog terkemuka, Dr. Emrus Sihombing, mendesak adanya terobosan yang lebih mendasar untuk mengatasi akar permasalahan.

Related Post
Emrus menyoroti bahwa kebijakan "zero tolerance" yang ditegaskan Sudaryono pasca dilantik belum sepenuhnya terwujud di lapangan. "Saya berpendapat kepala BGN yang baru sudah mulai bekerja maksimal. Tetapi sejalan dengan itu masih terus terjadi keracunan. Zero tolerance, setelah dilantik pun masih terjadi. Kenapa ini masih berlangsung?" kata Emrus di Jakarta, Jumat lalu, seperti dikutip suaramedia.id. Menurutnya, berlanjutnya kasus keracunan mengindikasikan adanya kelemahan fundamental dalam sistem penyediaan dan distribusi makanan yang memerlukan evaluasi menyeluruh.

Untuk itu, Emrus menyarankan agar Sudaryono mempertimbangkan moratorium sementara pelaksanaan MBG di wilayah-wilayah tertentu. Moratorium ini, lanjutnya, tidak perlu berlaku secara nasional, melainkan dapat diimplementasikan sebagai proyek percontohan (pilot project) selama sekitar tiga hingga enam bulan. Lokasi yang disarankan adalah daerah-daerah dengan karakteristik khusus seperti kantong kemiskinan, wilayah terpencil, tertinggal, terluar, maupun daerah perbatasan. Tujuannya adalah untuk membangun dan menguji sistem penyediaan makanan yang lebih aman, higienis, dan terjamin kualitasnya sebelum program dijalankan kembali secara penuh.
Sebelumnya, Sudaryono sendiri telah mengambil langkah tegas dengan menyetop sementara operasional MBG di sebagian wilayah Jawa Barat akibat dampak Gunung Anak Krakatau, serta menutup permanen 504 dapur MBG yang dinilai tidak memenuhi standar sanitasi dan higienis. Namun, menurut Emrus, langkah-langkah tersebut, meskipun penting, belum cukup untuk menghentikan insiden keracunan yang terus berulang.
Desakan dari pakar ini menjadi sinyal kuat bagi BGN untuk tidak hanya fokus pada penanganan kasus per kasus, melainkan berani melakukan inovasi dan terobosan sistemik. Keberhasilan program MBG, yang bertujuan mulia untuk meningkatkan gizi masyarakat, sangat bergantung pada jaminan keamanan dan kualitas makanan yang disalurkan, terutama bagi kelompok rentan di kantong-kantong kemiskinan.










Tinggalkan komentar