suaramedia.id – Ketika kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut mulai menipis dan hujan pertama turun membasahi bumi, banyak yang mengira bencana telah usai. Namun, menurut Zaenal Abidin, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2012-2015, justru di sinilah ancaman baru yang lebih berbahaya dan sering terabaikan mulai mengintai: hujan asam pasca-karhutla.

Related Post
Karhutla gambut telah menjadi momok tahunan di berbagai wilayah Indonesia, seperti yang terjadi masif pada 2019 dengan lahan terbakar mencapai sekitar 1,6 juta hektare. Kala itu, perhatian publik, baik domestik maupun internasional, tersedot pada kepulan asap tebal dan ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sayangnya, fokus ini cenderung memudar seiring hilangnya asap dari pandangan.

"Padahal, bahaya yang sesungguhnya baru saja bertransformasi," ungkap Zaenal Abidin. Ia menjelaskan bahwa bencana ini tidak lenyap bersama asap, melainkan berubah wujud secara diam-diam. Udara yang sebelumnya tercemar kini beralih menjadi air dan tanah yang terkontaminasi secara perlahan, menciptakan masalah kesehatan jangka panjang yang seringkali baru disadari bertahun-tahun kemudian.
Keunikan kebakaran lahan gambut terletak pada materialnya yang terbentuk dari akumulasi bahan organik selama ribuan tahun di bawah tanah. Saat terbakar, gambut melepaskan emisi gas pencemar dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kebakaran hutan biasa. Dua gas utama yang menjadi biang keladi adalah sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx), yang berasal dari kandungan sulfur dalam material gambut yang membusuk. Di atmosfer, gas-gas ini bereaksi dengan uap air dan oksigen, membentuk asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3) yang sangat korosif.
Jika air hujan normal memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 5,6, hujan pasca-karhutla bisa jauh lebih asam, membuatnya sangat merusak. Air hujan asam ini kemudian meresap ke dalam tanah, mengalir ke sungai, dan mencemari sumur-sumur warga. Kontaminasi ini terjadi secara senyap, luput dari jangkauan alat pemantau resmi yang ada saat ini. Akibatnya, dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan manusia seringkali baru terdeteksi setelah munculnya gejala-gejala serius pada tubuh, jauh setelah insiden karhutla itu sendiri. Ini menjadikan hujan asam sebagai warisan mematikan dari karhutla yang membutuhkan perhatian serius dan solusi jangka panjang.








Tinggalkan komentar