suaramedia.id – JAKARTA – Peristiwa kerusuhan yang mengguncang pada Agustus 2025 silam kini kembali menjadi sorotan tajam. Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, menganalisis bahwa insiden tersebut bukan sekadar ledakan kemarahan sesaat, melainkan indikasi perubahan sosial dan politik yang lebih fundamental di tengah dominasi era digital. Analisis ini diungkapkannya pada Selasa (16/6/2026), memicu diskusi mendalam tentang bagaimana dinamika masyarakat bergeser di tengah arus informasi yang tak terbendung.

Related Post
Denny JA menyoroti fenomena menarik di balik kerusuhan tersebut: bagaimana sebuah kejadian yang melibatkan warga biasa dapat dengan cepat meraih perhatian nasional, bahkan global, berkat kekuatan media sosial. Kecepatan penyebaran informasi melalui berbagai platform digital, mulai dari X (sebelumnya Twitter), Instagram, hingga TikTok, telah mengubah secara drastis cara masyarakat menerima, memproses, dan merespons setiap informasi yang beredar. Ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam komunikasi publik dan mobilisasi massa.

"Fenomena ini mendesak kita untuk meninjau ulang teori-teori sosial yang selama ini menjadi landasan dalam menjelaskan gerakan protes dan kerusuhan sosial," tegas Denny JA. Ia menggarisbawahi perlunya adaptasi kerangka berpikir sosiologis untuk memahami kompleksitas dinamika massa di era digital yang semakin tak terduga.
Dua teori utama yang dianggap relevan oleh Denny JA untuk menjelaskan fenomena ini adalah:
- Teori Deprivasi Relatif (Relative Deprivation) oleh Ted Robert Gurr: Teori ini menjelaskan bahwa ketidakpuasan sosial muncul ketika ada jurang lebar antara ekspektasi atau harapan masyarakat dengan realitas yang mereka alami. Perasaan ketidakadilan yang mendalam akibat kesenjangan ini menjadi pemicu krusial yang dapat mendorong terjadinya protes massal hingga konflik sosial yang lebih luas.
- Teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory) oleh John McCarthy dan Mayer Zald: Berbeda dengan fokus pada ketidakpuasan, teori ini menekankan vitalnya elemen-elemen seperti organisasi yang solid, kepemimpinan yang kuat, jaringan yang luas, serta ketersediaan sumber daya (finansial, manusia, atau informasi) dalam menentukan keberhasilan suatu gerakan sosial. Tanpa elemen-elemen ini, protes cenderung sulit berkembang menjadi gerakan yang efektif dan berkelanjutan.
Analisis Denny JA ini membuka wawasan baru tentang bagaimana kerusuhan di era digital harus dipahami, tidak hanya dari sudut pandang emosi massa, tetapi juga dari struktur sosial dan kemampuan mobilisasi yang kini sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi.








Tinggalkan komentar